التغريب وتأثيره نحو حقوق امرأة في العرب

Oleh: Nisaana ‘Azzalatifa

نظرنا اليوم، أنّ التغريب قد تطوّر في أنحاء البلاد. لا شكّ ولا ريب أنّ ثقافة الغربية أكثر ثقافة استعمالها. أحدها بلاد العرب، كما عرفنا أنّ بلاد العرب بلاد متمسك بشريعة الإسلام. حيث تمسّك وطبّق قيمة الإسلامية في حياتهم. العرب قبلة المسلمين في الثقافة الإسلامية شرقا وغربا. وهو قبلة اللغة العربية في أنحاء العالم.
واليوم دخل التغريب في بلاد العرب  ببرنامج رؤية السعودية ٢٠٣٠ الذي أسّس في يد ابن سلطان العرب محمّد ابن سلمان. وبهذ الحال سوف تؤثر ثقافةُ الغربيّة نحوَ ثقافة العرب إجابية كانت أو سلبية. ما هي الإجابيات المترتبة في هذا المجال؟ أحدها يعنى ارتقاء حقوق المرأة. فهمنا أن ثقافة العرب هي ثقافة الإسلاميّة والشريعة. هناك القانون الذي يرتّب حقوق المرأة. وهذا تحدد المرأة العربيّة في حقوقها. فالثقافة العربيّة منعت المرأة بالقيادة، ومنعت المرأة بالعمل خارج البيت، ومنعت المرأة بمشاهدة مبارات الرياضة حتى تحددت حقوقهنّ. وبوجود التغريب سوف ترفع درجة الالإمرأة العربية دون الخروج من دهليز الشرعيّة. ونظرا إلى بلادنا المحبوب، للمرأة حرّيّة واسعة.بجواز القيادة، ولاختيار العمل، ولارتداء الملابس، والجواز في عدّة المجلّات الحياة.
حيث قال تعالى:
“وَمَنْ يَعْمَلُ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولئِكَ يَدْخُلُوْنَ الجَنَّةَ وَلاَ يُظْلَمُوْنَ نَقِيْرًا”. بهذا الدليل نعرف أن لا فرق بين الرجال والنساء في الحقوق.
والمقالة الأخرى يقول: “الصالح من يؤدّى حقوق اللّه وحقوق الناس”. والمعنى، ليس الصالح من يؤدّى حقوق الله فقط، أو يؤدّى حقوق الناس فحسب، بل من يؤدى حقوقهما.

Penulis merupakan Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang

Teks asli: https://nisasabi.blogspot.com/2021/09/blog-post.html

Perlu Tamparan Keras?

Oleh: Zahrotuz Zakiyah

Karena dengan kata semangat saja baik dari siapapun itu, jika bukan diri kita sendiri yang memulai semua itu pasti kita akan tetap berada pada keterpurukan.

Tamparan keras bukan berarti kita butuh seseorang untuk menampar pipi kita dengan keras sehingga meninggalkan jejak jari jemari di pipi kita. Tamparan keras ini mungkin bisa dengan perkataan yang pedas atau semacamnya. Tujuannya yaitu untuk membuat kita sadar atau bangkit dari keterpurukan.

Pada saat diri merasa kacau, lupa diri atau sedang mabuk. Omongan atau nasehat apapun itu sudah tidak mempan lagi, maka saat itulah tamparan yang membuatnya sadar. Dan disaat seperti ini terjadi, saya yakin mayoritas dari kita tidak lagi membutuhkan semangat dari siapapun. Karena dengan kata semangat saja baik dari siapapun itu, jika bukan diri kita sendiri yang memulai semua itu pasti kita akan tetap berada pada keterpurukan.

Terkadang kekerasan atau kritikan tajam dan menusuk membuat orang lain menjadi salah paham, namun percayalah bahwa semua itu tidak selalu bernilai negatif. Adakalanya kita memang sangat membutuhkan kritikan itu, tanpa adanya kritikan kita tidak akan mengerti dimana letak kesalahan kita. Jika sebagian dari kita menganggap bahwa pujian lebih membuat kita menjadi bersemangat, namun sebagian dari kita ada yang mengganggap bahwa pujian ini menjadikan diri kita lebih santai sehingga tidak ada lagi kemajuan dari diri kita.

Saya sering menonton drama yang bergenre game, dari situlah saya mengerti bahwa tamparan keras itu memang perlu. Seperti dalam drama, disitu diceritakan adanya seorang pemain dengan performa yang sangat bagus tetapi dia memiliki kekurangan pada fisiknya. Dia cacat dalam kakinya karena kecelakan, dengan kecacatannya itu menjadikan dia tidak percaya diri untuk dapat menjadi pro player. Walaupun dari sebuah tim mengajaknya bergabung untuk menjadi bagian dari mereka dengan tujuan meraih kejuaraan dan menjadikannya pro player, namun semua itu tetap ia tolak karena kekurangan fisiknya tersebut. Hingga datanglah seorang dari salah satu tim yang ingin merekrutnya itu, dia menghampiri dengan emosi yang memuncak. Saat tepat dihadapaanya, seseorang itu mengatakan dengan sejujurnya bahwa memang orang cacat fisik tidak akan mampu menjadi seorang pemain yang profesional.

Perkataan tersebut pasti sangatlah menusuk, hingga seorang yang cacat tersebut pun terpancing emosinya dan memberontak dengan keras. Dia mengatakan dengan percaya diri bahwa ia mampu dan akhirnya dia pun menerima tawaran tersebut. Dari situ kita dapat mengambil kesimpulannya bahwa tamparan keras itu memang sangat diperlukan bagi mereka yang sedang terpuruk. Perkataan itu memang sebuah hinaan yang negatif, tetapi bukan berarti bernilai negatif.

Seperti halnya kita perlu merasakan gagal untuk menjadi sukses. Dan seperti yang kita tahu juga, Allah menurunkan bencana yang besar itu adakalanya memang benar-benar cobaan atau mungkin bisa jadi tanpa kita sadari itu adalah sebuah tamparan untuk kita.

Penulis merupakan Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Teks asli: https://creationzaki.wordpress.com/2021/09/05/perlu-tamparan-keras/

1 = 100 = 1.000.000 = 100.000.000

Oleh: Rayyan Alkhair

                Jika kita melihat sekilas persamaan diatas, maka yang akan terlintas pada pikiran kita adalah bahwa angka-angka diatas adalah soal logika aritmatika yang ada pada tes psikotes. Hal tersebut tidak salah, namun yang akan penulis bahas pada kesempatan kali ini bukanlah tips & trik pengerjaan soal-soal aritmatika. Penulis akan membahas sebuah proverb yang diucapkan oleh Jalaluddin Rumi, seorang filsuf Islam pada abad ke-9.

            Dalam beberapa kesempatan, Rumi yang merupakan seorang terpelajar, memberikan ceramah/kuliah umum kepada khalayak. Ceramah/kuliah umum tersebut kemudian dikodifikasi oleh para muridnya menjadi sebuah buku yang terkenal di barat dengan nama “the discourse of rumi” atau dengan nama asli “Fiihi ma fiihi”. Dalam suatu kesempatan, Rumi mengatakan bahwa “…. satu sama dengan seratus dan sama dengan sejuta..” , apa makna perkataan tersebut ?

            Menurut penulis, setidaknya ada dua makna dibalik perkataan rumi yang mirip dengan soal logika aritmatika dalam tes psikotes. Makna pertama adalah, sesuatu yang dimaksud sangat tidak penting/berguna/bermanfaat, dimana ketika “sesuatu” itu berjumlah satu atau berjumlah sejuta, keberadaannya sangat tidak penting bahkan jumlah pun tidak bisa menambah kegunaan/arti daripada “sesuatu” itu.

            Hal ini dapat kita ketahui ketika kita melihat sesuatu seperti “buih” di lautan atau di genanan air. Buih adalah sesuatu yang tidak penting, hal paralel dengan perkataan diatas bahwa baik ketika buih berjumlah satu maupun ketika buih berjumlah satu juta, ia tetap tidak membawa kebergunaan daripada eksistensi buih di seluruh dunia. Buih tidak dicari ketika nelayan melaut, nahkoda mengemudi atau ketika pelancong menyelami laut.

            Contoh kedua adalah sesuatu yang bernuansa sosial. masyarakat memiliki sebuah sistem yang membuat keteraturan, keharmonisan dan keamanan tetap terjaga. Masyarakat terdiri dari lingkaran yang semakin kecil, yakni keluarga dan individu didalamnya. Setiap “komponen” dalam masyarakat bekerja dan bersinergi satu sama lain, ketika ada satu komponen yang “anomali” , maka keseluruhan sistem akan terganggu dan ketidak bekerjaan/kehancuran menunggu didepan mata.

            Namun, apa yang kita kategorikan sebagai “komponen” yakni lingkaran kecil dan semakin kecil di masyarakat, tidak semuanya dapat dikatakan sebagai “komponen”. Ada yang seperti “komponen” namun bukan “komponen” itu sendiri, ia bagai lengkuas yang menyamar di kolam penuh semur.

Ada seseorang yang dengan keberadaannya tidak membawa manfaat atau bahkan eksistensinya tidak disadari sehingga ketika orang semacam ini berjumlah satu dalam masyarakat yang kecil atau berjumlah jutaan dalam masyarakat besar seperti negara, keberadaannya tidak membawa manfaat satu dengan yang lainnya, nilai ia dan mereka seperti buih di lautan, terombang ambing mengikuti arus dan tidak dicari oleh siapapun.

            Makna kedua daripada perkataan Rumi diawal adalah bahwa sebenarnya “sesuatu” baik itu konstruksi realita seperti istilah  atau konsep adalah satu, namun orang-orang di dunia yang membuatnya menjadi seakan-akan bervariasi dan memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya sehingga perdebatan kecil terjadi karena ketidak mampuan melihat hakikat daripada “sesuatu” itu.

            Sebagai contoh, kata “malas” , kata “santai” kata “istirahat” dan kalimat “masa tenang sebelum badai datang” terkadang sering membuat kesalah pahaman dan perdebatan kecil di masyarakat. Ketika seseorang sedang tidak melakukan apapun atau tidak melakukan pekerjaan utamanya, kata-kata diatas sering digunakan untuk mendeskripsikan kondisi yang sedang mereka lalui.

            Orang yang tidak melakukan apapun atau tidak melakukan pekerjaan utamanya akan mengatakan bahwa ia sedang “santai” atau mengatakan ia sedang “tenang sebelum badai datang”. Namun, orang lain yang melihatnya akan mengatakan bahwa ia sedang “malas-malasan” karena tidak melakukan apapun dan hal ini yang akan memulai perdebatan mengenai 1 = 100 = 1000.000.

            Sejatinya, bila kita menggunakan logika induksi, maka kita akan bisa melihat sisi ekletik daripada istilah-istilah diatas maupun jutaan istilah yang lahir dari manusia dan seakan-akan berbeda satu sama lain. Unsur “tidak melakukan apapun” atau “tidak sedang mengerjakan pekerjaan utama” adalah hal-hal yang ekletik daripada istilah-istilah diatas

Sehingga, pada hakikatnya keragaman dari istilah-istilah diatas adalah sesuatu yang artifisial, semu dan tidak penting. Keberagaman yang ada baik itu sepuluh, seratus maupun sejuta tidak penting sebab pada hakikatnya “sesuatu” itu adalah satu namun ketidak mampuan dalam melihat hakikat dari “sesuatu” yang membuat dualitas terjadi.

Penulis merupakan Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang

Teks asli: https://rayyanalkhair15.wordpress.com/2021/08/28/1-100-1-000-000-100-000-000/

Sekarang Sadar

Oleh: Khasiatun Amaliyah

(Pahala dari Allah) itu bukanlah angan-anganmu dan bukan (pula) angan-angan ahli Kitab. Barang siapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu, dan dia tidak akan mendapat pelindung dan penolong selain Allah.

Q.S. AN-NISA’ (123)

Seandainya kita diberikan kesempatan memperbaiki kesalahan di masa lalu cukupkah waktu yang diberikan tersebut untuk memperbaiki semua kesalahan yang pernah kita lakukan? Akan tetapi, Maha Suci Allah dengan segala apa yang ditakdirkan kepada hambanya, apa yang telah, dan pernah menyapa di hidup kita. Semuanya tidak lepas dari kehendak dan pengawasan-Nya. Segala peristiwa yang terjadi pun tidak terjadi tanpa alasan, melainkan selalu terselip hikmah, dan pesan cinta serta kasih dari-Nya.

24 jam. Dimulai dari kita balig hingga sekarang. Ada yang sudah kuliah, bekerja, atau malah sudah membangun rumah tangga, mungkin. Berapa tahun waktu yang sudah dilewati? Apakah waktu yang terasa singkat tapi tetap tidak bisa kita menyebutnya sebentar itu, sudahkah waktu selama itu membuat kita belajar? Penyesalan memang selalu datang di babak akhir. Akan tetapi, hal itu lebih baik ketimbang kita tidak pernah menyesal sama sekali dengan perbuatan atau apa pun itu yang sebenarnya salah dan keliru. Terkadang penyesalan lah yang bisa membuat kita mau belajar dan berubah. Semua itu tidak lain adalah salah satu dari banyaknya tanda cinta kasih-Nya kepada kita sebagai makhlu ciptaan-Nya.

Memang benar, hidup adalah tempat kita belajar dan berjalan untuk sampai pada tujuan akhir yang sebenarnya. Apabila kita tahu dan paham bahwa hidup adalah tentang belajar, lantas kenapa takut untuk mencoba? Takut mengalami kegagalan? Atau takut memulai usaha-usaha yang merupakan bentuk ikhtiar kita dalam beramal sebagai seorang manusia yang mengumpulkan bekal menghadap-Nya? Lantas, kenapa kita merasa mudah cepat putus asa, menyerah, dan berhenti untuk berbuat kebaikan hanya karena ternyata kita tidak mendapatkan hal setimpal ketika melakukannya di dunia? Padahal tidak selalu Dia akan membalas kebaikan hambanya secara langsung (di dunia) mungkin saja setelah kehidupan ini, yang justru lebih baik bagi kita, andai kita mengetahuinya.

Manusia adalah makhluk yang sering lupa untuk bersyukur. Melalui apa yang telah dimiliki saat ini. Pikirannya selalu cepat berlari ke sana dan ke mari, memikirkan apa lagi yang harus dimiliki setelah ini, pun begitu seterusnya seterusnya. Salahkah? Memiliki target, perencanaan, dan semangat optimisme itu penting. Akan tetapi, sangat disayangkan apabila semua hal baik tersebut justru menjadikan kita menjadi seorang pribadi yang tanpa sadar telah mendewakan diri sendiri. Merasa segala pencapaian, keberhasilan, ketenaran, kesuksesan semuanya adalah hasil jerih payah dan kerja kerasnya. Memang benar, manusia bahkan sering begadang untuk menyelesaikan suatu tugas, proyek, dan lain sebagainya. Bekerja dan berpikir begitu keras dan penuh semangat agar semua rencana bisa berjalan dan sesuai harapan. Akan tetapi, manusia tidak akan mampu melakukan semua itu tanpa pertolongan dari-Nya. Sungguh tidak akan mampu.

Melelahkan jika setiap perbuatan baik yang kita lakukan dibarengi dengan adanya harapan bahwa orang lain (manusia lain) pun akan memperlakukan kita sebagaimana kita memperlakukan mereka. Tidak bisa seperti itu. Di sinilah seringkali kita dibuat lalai dan lengah. Merasa kita sudah berbuat baik dan diri kita sudah menjadi pribadi baik. Sebuah renungan untuk kita bersama, pernahkah kita merasa sudah berbuat baik atau sudah merasa diri kita baik yang tanpa sadar dibarengi dengan perasaan menyombongkan diri? Mungkin kita tidak pernah menyadarinya, tapi Dia sungguh Maha Teliti terhadap apa yang kita kerjakan.

Setiap kebaikan sekecil apa pun itu ada pahalanya, ada hadiah dari-Nya. Ketika kita melakukan suatu kebaikan, kebaikan itu tidak lain untuk kita sendiri. Sebaliknya, setiap kejahatan meskipun kecil tetap akan menjadi sebuah perhitungan. Tidak ada salahnya kita untuk terus berbuat baik dan memang kita harus berbuat baik, ada atau pun tidak yang mengapresiasi. Sejatinya semua akan mendapatkan jawaban di akhir keputusan suatu hari nanti.

Kita tidak perlu berdebat memberikan pembuktian. Berbuatlah kebaikan sesuai dengan kadar kemampuan dan kedudukan masing-masing, percayalah semua akan tetap ada perhitungannya. Sebagai seorang manusia, kita tidak pernah tahu dari kebaikan mana yang sejatinya nanti akan menjadi amal terbaik kita dan Dia ridha terhadap amal yang kita kerjakan tersebut. Jadi, mari kita sama-sama berlomba dalam kebaikan dengan hanya mengharap ridha dari-Nya.

Penulis merupakan Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.

Teks asli: https://worentjourneyme.wordpress.com/2021/08/29/sekarang-sadar/

Pandemi, Menuntun Hati

Oleh: Khofifah

Aku menghela napas kecewa ketika melihat berita di grup sekolah yang mengatakan jika libur sekolah diperpanjang. Satu tahun sudah sekolah mengadakan pembelajarannya secara daring  (dalam jaringan) dan selama itu juga, aku terperangkap dalam rasa bosan.

Seperti hari-hari sebelumnya, pagi ini aku sedang melakukan pembelajaran secara virtual.

“Dhit, belikan sarapan tolong ya.”

Aku yang tengah sibuk memperhatikan guru via zoom langsung mematikan fitur on cam. “Maaf bu, Dhita lagi zoom.”

“Habis zoom selesai ya, Dhit. Ibu minta tolong, soalnya ibu lagi bantuin Ilham ngerjain tugas.” Dari balik pintu, terdengar suara ibu dengan nada memohon.

“Yah,” desahku kesal. “Kalau sempat ya bu, soalnya tugas Dhita banyak,” lanjutku.

Tak ada jawaban dari ibu. Aku menggeleng acuh, kembali menyimak pembelajaran di layar dan tak lupa mengaktifkan kembali fitur on cam.

Kelas pagi ini berakhir pukul sembilan dan dilanjut dengan pemberian tugas yang cukup banyak. Oh ya, sekarang aku tengah berada di kelas 11 SMA. Aku sama sekali belum pernah berkunjung langsung ke sekolah sejak pertama kali aku mendaftar, miris sekali.

 “Dhit, kamu mau jemput Ilham ke sekolah? Tadi dia berangkat sebentar.”

Hari ini entah sudah keberapa kali aku menghela napas. “Gak bisa bu, tugas Dhita banyak.” Kulihat dari pantulan cermin, ibu berjengit, mungkin kaget mendengar suaraku yang agak meninggi. Entah kenapa, aku jadi sering kesal semenjak pandemi ini. Aku merasa lelah fisik dan emosiku juga tidak stabil.

Tidak ada sahutan dari ibu. Lalu beberapa menit kemudian, terdengar suara motor dinyalakan. Karena penasaran, aku mengintip dari jendela. Terlihat ibu yang bersiap pergi, sepertinya hendak menjemput Ilham.

Aku pun melanjutkan aktivitasku mengerjakan tugas. Dan tepat ketika ibu pulang, tugasku selesai.

“Sarapan dulu Dhit,” panggil ibu seraya mengeluarkan tiga bungkus nasi dari dalam plastik.

“Nanti bu,” ucapku seraya sibuk menatap layar android.

“Sudahlah nduk, Handphonenya nanti lagi.” Suara ibu terdengar parau, seperti sedang menahan marah.

“Sebentar lagi, bu.” Desahan kesal keluar dari mulutku. Tanganku masih sibuk membalas satu per satu pesan yang masuk.

“Ayo nduk, sarapan bareng, ibu buatin kamu teh ini lho.” Aku melihat sekilas ibu yang datang dari arah belakang dengan membawa dua gelas teh.

Karena masih asyik membalas pesan di salah satu aplikasi chat, aku tetap tak mengindahkan permintaan ibu. “Iya bu, aku sarapannya nanti saja.”

Selanjutnya, aku hanya mendengar helaan napas lelah dari ibu. Karena tak kunjung mendapat kepastian dariku, ibu memilih memakan sarapannya seorang diri.

Sore harinya, tidak ada yang berubah. Aku baru saja selesai salat ashar dan seperti biasa, hendak mengecek notifikasi dari handphone lalu sesekali melihat story teman-teman yang diunggah melalu media sosial instagram.

“Ih yaampun dia sekarang ko gini sih, padahal dulu alim banget.”

“Duh, lihat story dia, jalan-jalan terus, perasaan lagi PPKM gini, pamer banget.”

“Ih, dia ngapain posting ini, bosen banget setiap hari ini terus, emang apa gunanya sih jadi fansnya artis itu, bikin kesel aja.”

Mulutku yang sedari tadi sibuk mengomentari story mereka langsung terdiam ketika suara ibu nyaring terdengar.

“Dhit,” panggil ibu dari balik pintu.

“Kenapa bu?”

“Lagi apa kamu nduk?”

“Tugas, bu.” Aku berbohong, tetapi aku benar-benar sedang tak ingin diganggu.

“Dari tadi pagi tugas terus nduk, emang masih banyak banget?” sedikit ada rasa bersalah karena berani berbohong kepada ibu, tapi sore ini adalah waktuku bersantai dan alhasil jadilah aku berbohong lagi.

“Lumayan Bu, deadline nya hari ini soalnya.” Bohong. Padahal semua tugasku hari ini sudah selesai. Terdengar helaan napas dari balik pintu. Ibu tetap tak mau masuk ke kamarku, sepertinya sedari tadi beliau hanya berdiri di posisinya.

“Ya sudah nduk, padahal Ibu mau ngajak kamu makan pisang goreng bareng, udah ibu buatin teh panas juga. Beneran kamu gak mau nduk? Pisangnya enak banget lho ini.” Suara ibu melemah, sepertinya beliau kecewa.

“Sisakan saja pisangnya, bu. Nanti aku makan setelah tugas selesai.” Aku mencoba menetralkan suaraku agar tak terdengar gugup. Bohong jika aku tak ingin makan pisang bersama ibu sore ini, tapi lagi-lagi berduaa bersama handphone terlihat lebih menarik.

Hingga maghrib tiba, aku baru keluar kamar. Berencana mengambil wudhu dan salat maghrib bersama ibu biasanya. Tapi, aku tidak melihat ibu di mushola kecil rumah kita. Akhirnya, aku berniat mencari ibu di kamarnya.

Aku memanggil ibu namun tak ada jawaban. Kuputuskan membuka pintu dan terlihat ibu tengah meringkuk di kasur dengan selimut tebal yang melapisinya. Pelan aku menghampirinya, tidak seperti biasa ibu seperti ini.

“Jam berapa ini, nduk?” ibu sepertinya menyadari kehadiranku. Aku terkesiap, matanya merah, bibirnya pucat, wajahnya sayu. Badannya juga panas ketika kutempelkan punggung tanganku ke dahi ibu.

“Ya Allah, ibu demam, sejak kapan?” ibu terdiam, tak menjawab pertanyaanku. Kuputuskan mengambil air putih dan obat.

“Sejak kapan, bu?” aku mengulangi pertanyaanku sekembalinya ke kamar.

 “Ibu sudah gak enak badan sejak tadi pagi, kak.” Ilham, adikku itu justru yang menyahut. Entah, sejak kapan dia berada di sini.

“Lho bu, kenapa gak bilang?” aku menatap ibu tak percaya. Menuntun ibu untuk mendudukkan badan dan menyenderkan kepalanya ke bahu kasur. Lalu membantunya meminum obat.

“Kak, ayo solat, ibu makmum kamu,” balas ibu mengalihkan pembicaraan. Ibu melakukan tayamum dan kami bersiap untuk solat.

Selesai salat dan berdoa, aku menyalami ibu. Menatap mata beliau yang tidak secerah seperti biasa. Suasana hening menyelimuti kami beberapa detik.

“Ada yang mau kamu ceritakan Dhit ke ibu?” aku menatap ibu bingung. “Gak ada, bu.”

“Ya sudah, ibu yang mau cerita kali ini.” Ada jeda sebentar sebelum ibu kembali berbicara. “Ibu tadi video call sama bapak dan katanya, bapak kangen sama kamu. Sudah jarang kamu menghubungi bapak Dhit, kenapa?”

Aku mendesah lirih, menatap bawah dan tak berani menatap mata sendu ibu.

“Meski sekadar tanya kabar, tapi itu jadi hal kecil yang membuat bapak semangat kerja di sana lho, Dhit.” Ibu mengelus pucuk kepalaku lembut.

“Dan soal ibu yang perintah kamu sebentar untuk beli sarapan dan jemput Ilham….” Kalimat ibu menggantung. Meninggalkan aku yang terdiam cukup lama.

“Maaf.” Hanya itu kata yang bisa keluar dari mulutku pada akhirnya.

“Gak, ibu gak marah, ibu memaklumi karena kamu mungkin memang sedang sibuk mengerjakan tugas,” tukas beliau.

“Sekarang , tentang pertanyaan kamu tadi, kenapa ibu gak memberitahu kamu kalau ibu sudah sakit sejak pagi?” suara ibu serak dan itu cukup membuat mataku memanas.

“Semenjak pandemi ini, kamu gak  pernah ada waktu untuk sekadar ngobrol sama ibu, nduk. Jangankan ngobrol panjang seperti ini, ibu minta kamu untuk sarapan bareng saja kamu gak mau.” Ada jede beberapa detik sebelum ibu melanjutkan. “Mungkin kalau ibu gak sakit, gak ada obrolan panjang seperti sekarang. Setelah salat berjamaah, kamu pasti langsung pergi lagi. Alasan yang kamu bilang selalu tugas, tugas, dan tugas.” Desahan kecewa keluar dari mulut ibu. Rasa bersalah sepenuhnya sudah menggelayut di diriku. Cairan bening mulai melengos keluar dengan mudahnya, aku menangis.

“Ibu sama sekali gak menyalahkan tugas, justru bagus karena kamu selalu tepat waktu mengumpulkannya. Tapi, ibu keberatan dengan waktu yang terlalu over kamu berikan kepada gadget, sampai kamu gak sadar menyakiti diri kamu sendiri. Contohnya, kamu sampai telat sarapan tadi pagi.”

“Ibu lihat, akhir-akhir ini kamu jadi mudah marah, gusar, gelisah. Kalau kamu marah kamu bisa sampai melukai orang-orang sekitar bahkan melukai diri kamu sendiri. Bukan marahnya yang salah, tapi mengekspresikan amarah itu yang kurang tepat.”

“Caranya gimana? Pasti kamu mau tanya itu.” ibu terkekeh, suaranya parau tapi kesan tegasnya masih melekat di setiap penggalan kata.

“Pertama, kamu harus jujur sama diri kamu sendiri. Ungkapkan kalau kamu memang lagi marah, sedih, kecewa, lelah, dan segala bentuk emosi lain. Ini sederhana, tapi banyak yang gak bisa melakukan ini karena terlilit gengsi. Misal gini, bapak lagi sedih, tapi bapak menyangkal itu karena dia merasa kalau jadi lelaki gak boleh sedih bahkan nangis. Apa yang terjadi? Bukannya tambah lega, bapak jadi mudah stress dan depresi.”

“Kedua, ekspresikan amarah sesuai versi kamu. Setelah kamu mengakui kalau kamu lagi marah, coba diam atau tarik nafas, bisa juga sembari olahraga, nonton film, masak, atau bahkan ada yang ketika marah, mereka memilih bersih-bersih rumah. Jadi dengan sendirinya, perasaan marah itu akan hilang.”

Ibu terdiam sebentar lalu membasahi tenggorokannya dengan meminum setengah gelas air putih.

“Keadaan pandemi seperti ini, keluarga memang punya peran lebih besar untuk saling menguatkan dan mengingatkan satu sama lain agar tidak melukai diri sendiri dan melukai orang lain tentunya. Apalagi semua serba online sekarang, nah, ibu juga kecewa sama sikap kamu yang mudah nyinyir orang lain di media sosial. Kita gak bisaseenaknya menjudge  sama apa yang orang lain unggah di platform medsos mereka. Kalau gak suka, gak usah dilihat atau unmute sekalian, lebih sederhana dan gak menimbulkan dosa. Di era sekarang, menumbuhkan jiwa berempati dan bersimpati juga penting sekali. Ngerti ya, Dhit.” Terakhir, ibu menyentil hidungku pelan, sembari berusaha tersenyum meski bibirnya pucat.

Terakhir, air mataku mengucur deras. Meski sedang sakit seperti ini, ibu tetap berusaha merangkul aku dengan senyumnya yang menenangkan. Terakhir kupeluk ibu  dan mengucapkan maaf.

“Ayo, kita telfon bapak.”

Aku mengganguk, mengusap air mataku dengan lengan baju sebelah kanan. Aku membantu ibu mengambil handphone di nakas. Beberapa menit kemudian, kami sudah tersambung dengan bapak di seberang sana.

Hatiku mencelos melihat senyum hangat bapak. Meskipun aku tahu, dibalik itu, ada perasaan lelah yang berusaha beliau tutupi.

Penulis merupakan Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Aku Sudah “Normal”

Oleh: Natasya Pustika Siregar

Semburat mentari diufuk timur menyinari kulit sawo matangku, suara burung-burung
berkicau terdengar di telingaku. Pagi ini aku sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Pemda Daerah, aku diajak dengan Bu Endah untuk menghadiri acara senam disana bersama beliau.

“Udah siap stev?” Bu Endah muncul dari balik pintu dan mendekat untuk membetulkan tatanan poni ku yang sedari tadi membuat ku gelisah karena tidak benar-benar rapi.

“Hmm, aku sudah siap bu. Tapi, apakah baik baik saja aku kesana? maksudku, apa tidak akan menimbulkan masalah?”

“Memangnya kenapa? Toh, kita disana akan bersenang-senang dan berjoget ria. Tidak ada yang akan terjadi manis.” Aku menatap Bu Endah dengan sedikit tersenyum agar beliau tidak merasa kesusahan oleh ku.

Bu Endah, wanita berusia 40 tahun ini adalah psikiater ku selama 6 bulan di rumah sakit jiwa dan hari ini adalah hari terakhir ku disini. Beliau sangat perhatian kepada ku bahkan selalu mengajak ku berjalan-jalan untuk menghirup udara segar.

“Stev, kok malah bengong si. Ayok” Bu Endah ternyata sudah Berdiri di dekat pintu hendak keluar dan aku pun mengikuti nya untuk segera pergi ke Pemda Daerah.
***
Bu Endah bergerak dengan energik mengikuti irama senam. Banyak orang disini bahkan bapak bupati pun mengikuti acara senam ini. Aku senang sekali bisa merasakan keramaian ini setelah dipasung selama 8 bulan oleh kelurga ku sendiri karena gangguan bipolar.

Bu Endah lah yang menyelamatkan ku dan aku tidak sendiri bahkan ternyata ada sekitar 80 pasein yang mengalami gangguan kejiwaan yang dipasung oleh kerabat dekatnya. Jujur, itu sangat traumatis sekali untuk ku. Tapi, bisa bangkit dari hal itu adalah hal yang luar biasa untukku
dan tentunya Bu Endah lah yang membantuku.

“Stev kok malah bengong si, kita akan bersenang-senang disini. mari berjoget bersama ku. Setelah itu kita akan berkunjung ke rumah mu yang baru. Oke?” Bu Endah mengatakan itu cukup keras karena aku sedari tadi hanya diam dan tidak percaya diri untuk ikut senam.

Karena tak enak dengan beliau akhirnya aku pun bergerak mengikuti irama senam.

Aku bahagia dan tidak ada yang dapat memasung kebahagiaan aku lagi.

***
Aku dan Bu Endah kini sudah di depan rumah baruku, Bu Endah meraih bahuku dan mengajak ku untuk masuk ke dalan rumah.

“Bu apa lampu nya memang terang seperti ini?” Kata ku pada Bu Endah saat sudah berada di dalam rumah bergaya minimalis ini. Rumah ini adalah pemberian dari Bu Endah karena aku dibuang oleh keluarga ku sendiri.

“Iya memang, aku rasa ini baik untuk mu yang suka membaca buku malam-malam stev.” Bu endah sedikit mentertawakan kebiasaan ku. Aku suka tawa renyah dan hangatnya.

“Terima kasih banyak, bu.”

“Aku harap kamu bisa menjalani hidup mu lebih baik, stev.” Suasana pun berubah menjadi sendu saat Bu Endah mengatakan itu dengan sangat tulus.

“Aku janji bu. Tidak akan ada lagi yang memasung kebahagiaan dan hidup ku.” Aku
memeluk Bu Endah erat, aku rindu ibu tapi aku rasa Bu Endah adalah sosok ibu sekaligus psikater yang sangat baik untuk ku.

Hari ini, hari ini aku keluar dari Rumah Sakit Jiwa.

Aku tidak gila, aku hanya pernah sakit dan sekarang aku “sembuh”.

END

Penulis merupakan Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.

Makna Kemerdekaan bagi Generasi Muda Indonesia

Oleh: Anur Wahyu Ningtyas

Pada tahun 2021, bangsa Indonesia akan memasuki 76 tahun kemerdekaan tepat pada tanggal 17 Agustus 2021. Merdeka dari para kolonial penjajah yang dilakukan oleh negara lain selama berabad-abad lamanya. Hari kemerdekaan tentu menjadi momen yang sangat bersejarah dan penting bagi suatu bangsa, termasuk juga bagi bangsa Indonesia. Kemerdekaan menjadi bukti nyata perjalanan panjang, pengorbanan, dan perjuangan keras dari para pahlawan dalam merebut kebebasan dari tangan penjajah.

Kemerdekaan Indonesia ditandai dengan dibacakannya Proklamasi Kemerdekaan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, bapak Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945. Proklamasi menjadi simbolis yang melambangkan lahirnya bangsa Indonesia. Namun, proklamasi kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan bangsa Indonesia, melainkan sebagai tonggak awal dimulainya perjuangan bangsa. Karena setelah merdeka, tugas dan amanah yang diemban bangsa ini justru akan semakin berat. Mempertahankan dan mengembangkan hasil perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan RI tidaklah mudah, karena seiring perkembangan zaman akan semakin besar dan berat tantangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Kemerdekaan yang bangsa Indonesia rasakan, medorong setiap rakyat Indonesia untuk turut serta dan aktif dalam mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sikap mempertahankan dan menjaga keutuhan NKRI sebagai wujud nasionalisme terhadap tanah air dan rasa syukur serta terima kasih kita terhadap para pahlawan terdahulu yang telah mempertaruhkan jiwa dan raga demi memperjuangkan kemerdekan bangsa Indonesia. Masih banyak hal yang perlu dilakukan agar negara Indonesia tetap berdiri kokoh dalam mempertahankan kemerdekaan. Proklamasi kemederkaan yang telah terwujud semestinya menjadi sarana yang mendorong rakyat Indonesia dalam mencapai kehidupan bermasyarakat yang adil dan makmur sesuai dengan makna yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945.

Makna kemerdekaan bagi setiap individu tentu berbeda-beda. Ada yang mengartikan kemerdekaan bangsa Indonesia sebagai awal kebebasan negara dari belenggu penjajah. Karena dengan adanya kemerdekaan secara otomatis seluruh rakyat Indonesia terbebas dari penindasan oleh negara lain dan diakui oleh dunia sebagai negara yang merdeka. Kemerdekaan sebagai alat pemersatu bangsa. Dengan adanya kemerdekaan seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke akan memiliki jiwa nasionalisme tinggi yang dapat mempersatukan bangsa dalam menyingkirkan perselisihan dan perbedaan demi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kemerdekaan juga dimaknai sebagai bukti kekuatan berdirinya bangsa Indonesia yang tentu menandakan bahwa perjuangan yang akan dilakukan akan semakin berat.

Perjuangan menjaga kemerdekaan saat ini tentu menjadi tugas untuk seluruh rakyat Indonesia terlebih bagi generasi muda. Generasi muda merupakan calon pemimpin dan penerus bagi bangsa di masa depan. Generasi muda tentu mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam mempertahankan keutuhan bangsa, serta membangun kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan agar terciptanya kehidupan yang sejahtera, adil, dan makmur di masa yang akan datang. Menghargai para pahlawan terdahulu menjadi suatu sarana yang dapat dilakukan generasi muda dalam memaknai kemerdekaan bangsa.

Ada banyak hal yang dapat dilakukan generasi muda saat ini untuk tetap menjaga esensi dan makna kemerdekaan bangsa, diantaranya dengan penghargai perjuangan para pahlawan terdahulu dan saling menghormati antar sesama ras, suku, agama, dan budaya. Taat akan pertauran, bijak berteknologi, tidak melakukan tindakan kriminal, mengharumkan nama bangsa, serta masih banyak lagi yang dapat dilakukan oleh para generasi muda bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan republik Indonesia.

Kemerdekaan Republik Indonesia harus tetap dipertahankan apapun dan bagaimanapun kondisinya. Seluruh rakyat Indonesia harus mengambil peran dan ikut andil dalam mempertahankan NKRI. Negara yang merdeka tidak hanya dibentuk oleh sekelompok golongan tertentu, akan tetapi seluruh bagian dari negara turut berperan dalam menjaga kemerdekaan. Sikap pantang menyerah, rela berkorban, rasa nasionalisme, saling bekerjasama, dan semangat perjuangan yang bergelora menjadi hikmah dan pelajaran yang sangat berharga yang dapat diambil dari perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Setiap individu tentu memiliki cara masing-masing dalam memaknai dan mengabdi untuk bangsa, namun apapun perbedaannya akan mencapai tujuan yang sama untuk kemakmuran bangsa Indonesia. Untuk seluruh rakyat Indonesia apapun suku, ras, agama, maupun budayanya mari untuk saling bahu membahu mempertahankan kemerdekaan NKRI, mari untuk saling bekerjasama melanjutkan perjuangan bangsa, mari untuk saling menghargai dalam kebhinekaan, dan mari untuk saling bersatu mewujudkan bangsa yang sejahtera. Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-76, semoga menjadi negara yang kian maju dan sejahtera.

Penulis merupakan Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Semua Sudah Takdir-Nya

Oleh: Eka Diyanti

Setiap pagi dihampiri kegelisahan yang bertubi-tubi. Entah bagaimana untuk terus bertahan menjalani hidup ini. Semakin hari semakin ke sini semakin banyak tantangan yang harus dihadapi. Tangis dan duka terus membanjiri. Tertawa kini pecah menjadi misteri penuh tanda tanya tak henti-henti.

Aku punya teman sekolah yang tidak terlalu dekat denganku, tetapi aku banyak belajar dari dia. Temanku yang satu ini berbeda dengan lainnya. Dia merupakan tipikal yang selalu ceria dengan senyum manisnya yang terpapar untuk semua orang. Dia bernama Fadhil. Fadhil adalah anak kedua dari empat bersaudara. Kakaknya baru saja kemarin cumlaude mendapat gelar sarjana informasi dan komunikasi. Sebelum kakaknya cumlaude, Fadhil juga mendapat kabar bahagia bahwa dirinya lulus seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Mendapat kedua kabar bahagia ini membuat orang tua Fadhil bangga terhadap anak-anaknya.

Ayah Fadhil adalah sosok seorang ayah yang pekerja keras. Ia tak pernah mau melihat anaknya merasa kesulitan. Beliau selalu menuruti permintaan anak-anaknya. Sungguh beruntung punya Ayah seperti beliau.

Belum lama ini bendera kuning terpasang nyata di halaman rumah Fadhil. Dia yang baru saja merasa bahagia langsung mendapat berita duka bagai langit yang diam diterkam guntur yang menggelegar. Banyak orang yang tidak menyangka atas kepergian ayahnya Fadhil. Karena biasanya terlihat sehat dan tidak apa-apa. Namun, beliau memang punya riwayat penyakit. Beliau pernah disarankan untuk cuci darah, tetapj beliau menolaknya dengan berbagai macam alasan.

Suatu hari sebelum kepergian Ayah Fadhil, tidak ada tanda-tanda apapun. Semua terjadi begitu saja sesuai rencana Allah. Hanya saja saat malam sebelum kepergiannya, Fadhil mendapati Ayah untuk yang terakhir kalinya. Fadhil yang sedang bersama Ayahnya pada malam itu dan Ayah berkata “Ayah mau istirahat, Nak.” Mendengar permintaan ayah, Fadhil langsung meninggalkan ayahnya dengan menyelimuti ayah dengan selimutnya dan mematikan lampu penerang kamarnya. Pada saat malam itu suasana di rumah Fadhil sedang ramai, ada yang sedang berbincang-bincang dan ada juga yang sedang bermain. Setelah keluar dari kamar Ayah, Fadhil disuruh ibunya memasak dan mempersiapkan untuk makan malam. Di saat masak, Fadhil tidak terpikir apapun tentang ayahnya. Karena dia selalu berpikiran positif bahwa ayahnya akan selalu baik-baik saja. Setelah selesai masak, Fadhil pun makan. Beberapa jam kemudian, Ibu Fadhil pergi ke kamar ayah,  dan mendapati ayah yang sedang tidur pulas. Hingga ketika dipanggil tidak bangun-bangun.

“Yah, ayah….?”Panggil ibu Fadhil.(Dipanggil beberapa kali kok tidak bangun-bangun). Ibu Fadhil pun mulai heran, kemudian beliau memanggil Ayah kembali dengan suara lantang, “Ayah…..Ayah……” (Ayah tetap saja tidak bangun). Kemudian Fadhil yang sedang makan di dapur langsung lari menuju kamar Ayah. Pada saat itu semua orang panik di kamar ayah. Dan akhirnya Fadhil mengambil ponsel dan menghubungi dokter untuk datang ke rumahnya, akan tetapi dokter tidak bisa datang dengan alasan masih punya banyak pasien. Fadhil kecewa dengan sang dokter karena  saat dibutuhkan tidak bisa datang. Kemudian Fadhil langsung memegang denyut nadi ayahnya dan yang ia rasakan denyut nadinya sudah tidak berdetak. Dan ini artinya Ayah Fadhil sudah tiada. Semua orang menangis dan tidak percaya bahwa Ayah Fadhil telah tiada.

Di malam itu suasana rumah Fadhil penuh dengan tangis pilu. Tangis terus mengalir dengan derasnya dari mata Fadhil. Fadhil yang terus memegang tangan ayah dengan penuh harapan bahwa ayah akan bangun dari tidurnya. Akan tetapi, semua itu mustahil. Karena apapun yang kita inginkan tidak akan terwujud, jika belum kehendak Allah Swt.

Kebahagiaan dan kesedihan adalah bagian dari hidup kita. Kepergian seseorang mengingatkan kita, bahwa semua hal yang ada pada diri kita akan kembali kepada sang pencipta-Nya. Syukuri kebahagiaan yang Allah beri dan terima kenyataan bahwa semua hal tak semanis yang kita inginkan. Kadang ada juga pahitnya kehidupan yang harus kita rasakan termasuk kehilangan seseorang yang berharga dalam hidup kita.

Penulis merupakan Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang.

Muharram: Bulan Refleksi dan Perencanaan

Oleh: Nurjaya

Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, sebentar lagi kita akan memasuki tahun baru islam yaitu jatuh pada pada bulan muharram. Bulan Muharram merupakan bulan pertama pada kalender hijriyah yang didalamnya mengandung berbagai keistimewahan yang luar biasa. Menurut ahli tafsir, terdapat empat bulan yang disebut dengan bulan haram yaitu bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan bulan Rajab. Bulan haram berarti bulan yang mulia serta istimewa. Bulan Muharram juga disebut sebagai bulannya Allah, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah yanga artinya “ Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulannya Allah, yakni bulan Muharram” (HR. Muslim).

Bulan muharram memang sangat luar biasa, banyak hal yang perlu kita siapkan dalam menyambut bulan muharram ini karena sangat disayangkan jika kita melewatkan salah satu bulan yang Allah muliakan ini. Terlebih pada bulan muharram terdapat pergantian tahun yaitu dari 1442H ke 1443H. Ini seharusnya menjadi agenda besar bagi seorang muslimin karena dapat membuat evaluasi atau refleksi diri dan perencanaan. Refleksi tentu perlu dilakukan oleh seorang muslim agar mengetahui hal yang sudah dilakukan selama satu tahun terakhir apakah baik atau justru sebaliknya. Sedangkan, perencanaan untuk satu tahun kedepan juga sangat penting agar dapat menjadi muslim yang lebih bermanfaat. Bahkan dalam salah satu perkataan Ali bin Abi Thalib mengatakan “Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.” Perkataan ini, bukan hanya main-main tetapi seharusnya dapat kita terapkan dalan kehidupan kita agar kita setiap harinya selalu mengalami peningkatan dan jangan sampai menurun.

Keluarbiasaan muharram juga terletak pada sunah-sunah yang dianjurkan diantaranya berpuasa yaitu puasa asyura yang jatuh pada tanggal 10 muharram dan akan lebih baik jika dilanjutkan pada hari ke 8 dan 9. Tidak main-main, pahala yang dijanjikan Allah sangat luar biasa yaitu dapat menghapus dosa selama satu tahun kebelakang “Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Pada bulan muharram juga disunahkan untuk memberikan sedekah, salah satu dumbernya dalam kitab Lathaifut Thaharah wa Asrarus Shalah karangan KH Sholeh Darat disebutkan: “Bahwa awal Muharram adalah tahun barunya seluruh umat Islam. Adapun tanggal 10 Muharram adalah ‘Hari Raya’ yang digunakan untuk bergembira dengan shadaqah.”

Bahkan, bulan muharram ini juga kerap dikaitkan dengan lebarannya anak-anak yatim sehingga sangat dianjurkan untuk beredekah kepada mereka. Bulan Muharram juga mendapat sebutan khusus yakni syahrullah atau tepatnya syahrullah al Asham (bulan Allah yang sunyi) karena sucinya bulan ini, maka kita sebagai umat yang taat haruslah memaksimalkan bulan muharram ini.

Penulis merupakan Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang.

Reanalysis Makna Kesetaraan Perempuan Bareng Abi Quraish

Oleh: Fafi Masiroh

Hari Minggu yang spesial adalah waktu yang tepat untuk membahas yang spesial. Bukan lagi martabak yang spesial, tetapi kaum perempuan jauh lebih spesial. Mayoritas kaum perempuan pasti sangat setuju dengan pernyataan saya bahwa mereka itu spesial lebih dari martabak, karena saya sendiri salah satu bagian dari kaum perempuan. Pun sebenarnya tidak karena itu saja, karena perempuan sebenarnya juga memiliki berbagai kemampuan yang membuatnya begitu spesial.

Sudah bukan kabar baru lagi jika perempuan, lebih spesifiknya perempuan yang sudah menikah (istri) dituntut untuk memiliki berbagai kemampuan dan tanggung jawab. Sang istri harus bangun pagi sebelum orang-orang di rumah terbangun, ia harus membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan di pagi buta untuk kemudian membantu anak dan suami pergi ke sekolah ataupun berangkat kerja. Hingga kemudian ia baru bisa memenuhi kebutuhanya setelah seluruh hal yang dianggap “kewajibannya” sudah selesai. Keadaan tersebut yang mendorong beberapa oknum untuk meminta “kesetaraan” bagi perempuan. Sayangnya, pemahaman perihal “kesetaraan” bagi perempuan kerap kali salah diinterpretasi oleh masyarakat umum. Makna kesetaraan bukan berarti perempuan menuntut kebebasan, jabatan ataupun kedudukan yang sama dengan laki-laki. Melainkan, menurut Abi Quraish Shihab dalam suatu kesempatan mengatakan bahwa makna kesetaraan bukan berarti sama. Makna kesetaraan bagi perempuan menurut beliau yaitu ada beberapa pekerjaan yang diemban oleh perempuan tetapi mustahil diemban oleh laki-laki, pun ada pekerjaan yang diemban laki-laki tetapi berat jika harus diemban oleh perempuan. Keadaan yang seperti itu kemudian mendorong perempuan dan laki-laki untuk saling melengkapi dan menghargai sehingga menjadikan makna kesetaraan di antara keduanya.

Problematika saat ini yang kerap kali terjadi yaitu budaya patriarki yang masih saja dibudidayakan. Perempuan tidak jarang dianggap sebagai suatu “barang” yang cantik dengan keontetikan paras dan postur tubuhnya. Misalnya yang sering terdengar dalam suatu akad seorang bapak mengatakan “kuserahkan anakku kepadamu” kepada sang laki-laki layaknya sebuah barang yang dialih pindahkan kekuasaannya. Padahal ucapan yang seharusnya alangkah lebih baik jika “kupasangkan anakku denganmu” yang menunjukkan makna kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Budaya patriarki ini justru sering dianggap lahir dari pemahaman agama islam. Misalnya makna suami sebagai imam keluarga sering diartikan bahwa suami memiliki kekuasaan penuh untuk menentukan sesuatu dalam setiap keputusan. Sedangkan menurut Abi Quraish “suami sebagai imam keluarga” dalam pemahaman islam yang sebenarnya yaitu suami berkewajiban memimpin untuk berdiskusi dan bermusyawarah dalam menentukan setiap keputusan. Sejatinya dalam agama islam perbedaan antara perempuan dan laki-laki yaitu hanya pada kodrat.

Budaya patriarki jika masih saja dibudidayakan akan sangat mempengaruhi penurunan keberlansungan kehidupan di dunia. Misalnya saja beberapa perempuan di Jepang mengklaim dirinya untuk selalu lajang karena efek dari budaya patriarki. Mengutip japanesestation.com bahwa angka pernikahan di Jepang pada tahun 2018 mengalami titik terendah. Akibatnya pada tahun 2019 angka kelahiran bayi sangat rendah dan menurunkan produktivitas dalam segala bidang ke depannya. Hal tersebut yang menunjukkan bahwa makna kesetaraan perlu dianalisis kembali baik bagi kaum perempuan sendiri ataupun kaum laki-laki. Harapannya dengan analisis ulang tersebut, misinterpretasi perihal makna kesetaraan menjadi lebih jelas untuk kemudian dapat diaplikasikan dalam menghapus budaya patriarki.

Budaya patriarki memang problem yang sering kali dibahas tetapi masih saja sulit untuk mendapatkan solusinya. Oleh karena itu diperlukan solusi dari kedua belah pihak, yaitu antara perempuan dan laki-laki. Kuncinya diperlukan kerja sama dan saling menghargai. Perempuan sendiri juga sebaiknya dituntut memiliki tanggung jawab untuk selalu berusaha mendapatkan kesetaraan tersebut. Perempuan juga perlu mendapatkan penguatan-penguatan untuk lebih menyadari atas keberdayaannya dalam memenuhi kebutuhan di sekelilingnya.

Referensi:

https://japanesestation.com/lifestyle/life-relationship/mengapa-wanita-jepang-tidak-mau-menikah diakses pada 8 Agustus 2021.

Penulis merupakan Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.