SANTRI INDONESIA

Oleh : Tia Rosalita

75 tahun sudah Indonesi merdeka

Teringat peristiwa perjuangan dan pengorbanan

Bagimana santri, ulama dan  para pahlawan

Berjuang dan berijtihad meraih kemerdekaan

 

Hai pemuda

Hai para santri Indonesia

Kita adalah tunas bangsa

Kita tumbuh dengan teguh

 

Pemuda dan santri adalah harapan

Harapan majunya islam di zaman edan

Santri adalah cahaya iman

Mari bersama membangun indonesia yang tentram dan aman

 

Santri bukan mereka yang mondok saja

Tapi mereka yang mengalir darah merah putih di tubuhnya

Mereka yang berakhlak mulia seperti santri

Itu adalah santri

 

Jadi, jangan tanya lagi santri bisa apa

Karena santri bisa segalanya

Jangan tanya lagi santri bisa jadi apa

Karena santri bisa jadi apa saja

 

Bangkitlah pemuda , Hiduplah santri Indonesia

Selamat Hari Santri , Merdeka !!

 

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang.

Menggali Makna Ikrar Sumpah Pemuda

Oleh: Khikmatul Laili Desiyani

Sebentar lagi kita akan menyambut tanggal 28 Oktober dan memperingatinya sebagai hari sumpah pemuda. Sumpah pemuda sendiri merupakan salah satu peristiwa bersejarah bangsa Indonesia yang mana merupakan salah tonggak bersatunya seluruh pemuda Indonesia. Tanpa persatuan, akan sangat sulit bagi Bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan.

Sumpah Pemuda tercetus dari keputusan Kongres Pemuda II yang diselenggarakan dua hari, yakni pada 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta). Dua tahun sebelumnya, telah juga dilakukan Kongres Pemuda I mulai tanggal 30 April hingga 2 Mei 1926 di Batavia. Sejarah Sumpah Pemuda berawal dari Kongres Pemuda Kedua yang berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI). PPPI adalah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat sehingga terjadilah Sumpah Pemuda.

Dalam kongres sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober, untuk pertama kalinya ikrar pemuda dibacakan di depan khalayak umum. Ikrar pemuda tersebut berbunyi sebagai berikut:

Pertama, Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kedua, Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Ketiga, Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Isi dari ikrar sumpah pemuda tersebut memiliki makna yang dalam. Isi dari sumpah pemuda yang pertama berbunyi “Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia”. Kalimat tersebut memiliki makna bahwa seluruh putra putri Indonesia mengakui bahwa mereka memiliki darah yang sama sebagai putra putri Indonesia. Dalam kalimat itu juga tercermin bahwa semua putra putri Indonesia, semua pemuda dan warga Indonesia adalah saudara. Dengan demikian tercermin pula bahwa mereka merasa sepenanggungan, kemudian timbullah persatuan dan rasa saling memiliki untuk saling melindungi, menjaga, dan menolong satu sama lain guna mencapai kesejahteraan dan kebaikan bersama.

Selain itu, tumpah darah diartikan sebagai perjuangan atau berbuat dengan sungguh-sungguh terhadap sesuatu, baik memperjuangkan hidup, kemerdekaan, kebahagiaan, nafkah dan sebagainya.  Kemudian kata tumpah darah dihubungkan dengan Tanah Air, yang berarti kampung halaman, tempat tinggal dan sebagainya. Ini menegaskan jika apapun perjuangan yang dilakukan adalah dari Indonesia dan untuk Indonesia.

Berdasarkan butir pertama ikrar sumpah pemuda ini,  beberapa hal yang dapat kita upayakan untuk mengimplementasikannya antara lain dengan mengharumkan nama Indonesia di mata Internasional sesuai bidang dan kemampuan masing-masing. Hal lain yang dapat kita lakukan ialah dengan menjaga alam dan lingkungan Indonesia, hal sepele yang paling mudah yang dapat kita terapkan adalah dengan membuang sampah pada tempatnya. Selain itu, kita juga bisa menanam pohon secara mandiri atau mungkin bergabung dengan kegiatan pecinta alam.

Tidak hanya itu, untuk mengimplementasikan butir pertama ini dapat dilakukan dengan menghargai sejarah dengan mempelajarinya dan juga mengamalkan nilai positifnya. Selain itu, hal yang paling penting untuk dilakukan adalah dengan merajut persatuan dan rasa cinta tanah air. Sedangkan hal paling mendasar yang bisa dilakukan oleh setiap orang adalah dengan berusaha menjadi versi terbaik bagi diri masing-masing, untuk keluarga, lingkungan sekitar, dan juga bangsanya.

Butir kedua ikrar sumpah pemuda berbunyi “Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia”. Butir kedua ini menerangkan bahwa pemuda dan pemudi hanya mengakui satu bangsa, yakni Indonesia. Maksudnya adalah meskipun setiap pemuda dan pemudi  berasal dari suku yang berbeda-beda, namun pemuda pemudi hanya mengakui satu bangsa yaitu Indonesia. Butir ini menegaskan adanya rasa persatuan dan toleransi yang kokoh.

Sikap yang sesuai dengan butir kedua ini antara lain dengan menyadari bahwa perbedaan bukanlah sebuah masalah dan tidak seharusnya dipermasalahkan. Perbedaan justru menjadi penguat persatuan, yang mana bisa menjadikan para pemuda pemudi untuk saling menghargai, menghormati, sekaligus menjadi sumber kekuatan dan juga kekayaan bagsa Indonesia. Untuk itu, sangatlah penting bagi para pemuda pemudi dan juga seluruh warga Indonesia untuk melestarikan budaya, mencintai budaya, bangsa, dan tanah air Indonesia.

Indonesia adalah bangsa yang kaya dan memiliki banyak sekali budaya yang haruslah  dilestarikan. Disamping perlu untuk melestarikan, kita sebagai warga negara juga hendaklah bangga pada budaya tersebut. Sudah seharusnya menjadi tugas kita mencintai dan melestarikannya, bukan malah mengabaikannya dan meniru budaya asing.

Butir terakhir sumpah pemuda berbunyi “Ketiga, Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Kita mengetahui bahwa Indonesia adalah negara yang majemuk. Setiap daerah di Indonesia memiliki bahasa daerah masing-masing yang berbeda. Bahkan, dalam satu daerah saja terkadag sudah ditemukan bahasa yang berbeda. Untuk itu, diperlukan bahasa pemersatu, ialah bahasa Indonesia.

Berdasarkan butir ketiga ini, sangatlah jelas bahwa bahasa Indonesia adalah satu satunya bahasa pemersatu bagi pemuda bagsa Indonesia dari seluruh penjuru negara Indonesia. Bahasa Indonesia memiliki peranan yang sangat penting bagi seluruh warga negara Indonesia, karena tanpa adanya bahasa pemersatu (Bahasa Indonesia) maka komunikasi tidak akan berjalan, dan tanpa komunikasi maka akan ada banyak sekali masalah yang akan muncul, dan justru tidak akan terselesaikan dengan baik. Hal tersebut disebabkan karena komunikasi merupakan kunci dari sebuah hubungan atau relasi baik antar individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat sekitar, atau dalam lingkup kehidupan berbangsa dan bernegara.

Merujuk pada butir  ketiga sumpah pemuda, bahasa juga merupakan salah satu identitas suatu bangsa atau negara. Menjunjung tinggi bahasa Indonesia merupakan kewajiban setiap warga negara. Tidak cukup hanya dengan menjunjung tinggi, warga negara Indonesia (para pemuda khususnya) juga harus bangga akan bahasa pemersatu atas beragamnya bahasa daerah di Indonesia.

Menjunjung Bahasa Indonesia bukan berarti menutup diri akan bahasa daerah dan bahasa internasional. Ketepatan dalam memposisikan bahasa nasional dengan bahasa daerah yang wajib untuk dilestarikan. Sedangkan kebutuhan akan bahasa Internasional yang wajib untuk dipahami merupakan tantangan yang harus selalu direaktualisasikan kaum muda dalam upaya menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Butir ketiga Sumpah Pemuda ini haruslah dimaknai secara luas. Dalam arti tidak hanya memaknai dari sebatas kalimat yang membentuknya aja. Akan tetapi lebih kepada nilai dari kesatuan dan persatuan yang mengikat didalamnya untuk dapat diterapkan oleh para pemuda saat ini.

Apabila kita berkaca pada keadaan pemuda saat ini, mungkin nilai-nilai yang terkandung dalam setiap butir ikrar sumpah pemuda belum seutuhnya dapat terwujud. Tidak dapat dipungkiri, pada zaman sekarang ini terdapat juga beberapa pemuda yang justru malah melakukan hal-hal menyimpang dari norma. Misal saja, masih sering ditemui para pemuda yang bukannya menggalang persatuan namun justru malah melakukan tawuran di beberapa tempat kemudian terlibat perseteruan dan bentrok yang menimbulkan kerugian bagi masyarakat.

Perkembangan teknologi yang sudah sangat canggih, menjadikan para kaum muda saat ini tidak bisa lepas dari gawai, dan sosial media pun kini telah menjadi bagian penting kehidupan mereka. Kecanggihan teknologi tersebut tentulah memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia, namun tak jarang juga sering disalahgunakan oleh beberapa masyarakat, misalnya untuk mengadu domba, menyebarkan hoax, menimbulkan kebencian satu sama lain. Pengguna media sosial didominasi oleh pemuda dan ketika terjadi adu domba, salah paham,  atau permasalahan yang menyinggung SARA-pun tak dapat dipungkiri, sedikit atau banyak, kehadiran pemuda juga terlibat di dalamnya.

Disisi lain, beberapa pemuda juga abai dengan kebudayaan daerah dan juga kebudayaan bangsa Indonesia. Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi menjadikan setiap orang dapat dengan mudah mendapatkan informasi yang tak terbatas. Mereka dapat melihat dan mengetahui berbagai hal dari berbagai penjuru dunia. Hal ini lah yang kemudian membawa sebagian dari mereka mencintai budaya luar secara berlebihan dan melupakan budaya bangsa sendiri. Bahkan hal ini dapat menimbulkan runtuhnya rasa cinta terhadap bangsa Indonesia dan hilangnya rasa memiliki atas tanah air Indonesia.

Ketika kita kembali berkaca pada peristiwa sumpah pemuda dan memahami ikrar yang telah dibacakan oleh para pemuda pada 28 Oktober 1928, sumpah pemuda ini tidak sepatutnya hanya menjadi cerita lalu saja. Sebagai salah bentuk upaya menghargai sejarah dan perjuangan, kita perlu menyambut dan memperingati dengan rasa penuh cinta pada tanah air. Disamping itu, kita sebagai pemuda hendaklah mengimplementasikan makna yang terdapat dalam setiap butir ikrar sumpah pemuda dalam kehidupan sehari-hari, karena meskipun zaman telah berubah nilai sumpah pemuda tetaplah harus kita kobarkan sebagaimana semangat luar biasa para pemuda di masa lampau untuk persatuan, kebaikan, dan kemajuan negara Indonesia.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Refrensi:

https://www.kompasiana.com/vsomaferrer/59f2afd928d54e7b265722b2/meremaknai-butir-ketiga-sumpah-pemuda

https://m.liputan6.com/hot/read/4362335/makna-sumpah-pemuda-bagi-bangsa-indonesia-tanamkan-dalam-jiwa

https://www.kompasiana.com/www.kernianingsih.com/semangat-pemuda-dan-harapan-bangsa_54f821e4a33311225e8b4621

https://indoprogress.com/2018/10/90-tahun-sumpah-pemuda-pemudanya-ada-sumpahnya-hilang/

Tiktok sebagai Media Edukasi Covid-19

Oleh: Dian Fatimatus Salwa

Internet merupakan salah satu sarana komunikasi yang banyak diminati oleh masyarakat. Semua kalangan mulai dari remaja, dewasa, bahkan anak kecil sekalipun turut menggunakannya. Indonesia sendiri menjadi salah satu negara dengan persentasi pengguna internet sebesar 64,8%. Dengan angka yang tidak bisa dikatakan sedikit tersebut tentunya menjadi boomerang tersendiri. Akan mendapatkan berbagai macam manfaat apabila dapat menggunakannya dengan bijak namun juga akan memberi dampak yang luar biasa apabila menyalahgunakannya. Saat ini internet tidak hanya sebagai sarana bertukar informasi saja, kini sosial media bisa menjadi platform untuk menyebarkan edukasi kepada orang awam. Berbagai macam platform sosial media dengan berbagai fitur diciptakan dengan sangat menarik salah satunya yakni Tiktok.

Pada tahun 2020 Tiktok menjadi salah satu platform yang banyak diminati oleh berbagai kalangan, karena selain menyediakan konten hiburan, juga terdapat berbagai macam konten edukatif yang tentunya dapat menjadi poin plus tersendiri bagi pengguna yang memanfaatkannya. Tiktok berkembang pesat ketika masa pandemi datang, adanya kebijakan work from home tentunya membuat berbagai masyarakat melakukan segala rutinitas dirumah. Untuk mengisi waktu luang dikala pandemi banyak sekali masyarakat yang memilih Tiktok sebagai sarana hiburan. Utamanya untuk generasi millenial saat ini yang tak bisa dipungkiri lagi jika hampir semua remaja pengguna gawai memakai aplikasi Tiktok.

Hal tersebut dapat dimanfaatkan sebagai salah satu media untuk menyebarkan konten edukatif perihal covid-19. Para pengguna Tiktok dikalangan remaja utamanya lebih tertarik dengan konten edukatif yang dikemas dengan kreatif, ringan, dan tanpa ada unsur paksaan dibandingkan membaca berita yang menurut mereka terkesan monoton. Untuk kalangan anak kecil video edukatif tiktok yang dikemas dengan lagu yang menarik akan membantu mereka dalam memahaminya karena mudah dicerna. Faktor selebriti juga menjadi salah satu faktor penting dalam penyebaran informasi edukatif di tiktok karena selebriti yang memiliki nama besar dan pengikut banyak mampu mempermudah penyaluran informasi.

Untuk menarik minat masyarakat agar tidak hanya menonton saja namun juga mengimplementasikannya maka dapat ditempuh dengan mengadakan challenge di tiktok seperti gerakan mencuci tangan atau gerakan memakai masker dengan benar. Dengan mengadakan challenge membuat video tersebut maka secara tidak langsung masyarakat telah mengamalkan salah satu gerakan germas. Challenge tiktok tersebut bahkan dapat diikuti oleh semua kalangan, tidak hanya remaja atau orang dewasa saja, anak kecilpun dapat berkontribusi. Hal ini menunjukan bahwa tiktok sangat berperan penting dalam penyebaran informasi edukatif mengenai Covid-19. Terlebih lagi di dalam tiktok tidak hanya terdapat orang biasa dengan basic pendidikan rendah, namun juga terdapat orang dengan latar belakang pendidikan yang tinggi serta wawasan dan pengalaman yang banyak pula, apabila orang berpendidikan ini membuat konten informatif yang dikemas secara menarik, ringan, serta menghibur maka pelajaran mengenai covid-19 yang bahasanya terkadang sulit dicerna orang awam maka mampu dipahami oleh semua kalangan.

Oleh karena itu, pemanfaatan tiktok sebagai media penyebaran informasi covid-19 perlu diperhatikan serta dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tiktok sebagai media populer sangat ideal untuk melakukan kampanye germas untuk menghentikan kasus penyebaran covid-19.

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan  mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang.

Sebatas Titipan

Oleh : Khikmatul Laili Desiyani

Setiap dari kita memiliki kemampuan masing masing. Tentu saja kemampuan yang terbatas. Setiap dari kita pasti akan menghadapi kesulitan. Akan ada masa dimana semua terasa berat. Akan ada masa dimana seolah kehidupan kita sangat gelap. Sabar adalah hal penting, sabar adalah hal yang sangat penting.

Dunia adalah tempat singgah sementara. Dunia hanyalah tempat persinggahan. Jangan sampai lupa bahwa suatu hari pasti kita akan pulang, pulang ke tempat yang abadi. Dunia bukan segalanya, tak apa jika ada satu, dua, atau banyak urusanmu yang kacau. Tak apa jika ada banyak hal hal duniawimu tak sesuai ekspektasimu. Sungguh tak masalah jika alurmu tak terlihat seanggun kisah yang lainnya.

Tak apa jika yang lain telah sampai di puncak sedang kau masih bergegas, pastikan saja bahwa kau akan terus melangkah. Sesekali berhenti sejenak dan beristirahat bukanlah sebuah masalah. Setiap dari kita punya kapasitasnya. Setiap dari kita punya kemampuan yang berbeda beda. Setiap dari kita punya garisnya masing-masing. Tak akan pernah bisa disamakan.

“Jangan terlalu”, itulah kata temanku yang ternyata memiliki makna yang sangat dalam . Hidup sewajarnya, melangkah semampunya, jangan dipaksa. Bersyukur atas apa yang ada. Saat duniamu kacau, saat hatimu berantakan, saat fikirmu bertanya tentang banyak hal yang tak karuan, ingat lagi, hidup ini hanyalah titipan. Sebatas titipan.

Seringkali kau memikirkan dunia secara berlebihan. Seringkali kau menanggapi masalah dunia secara tak karuan. Hey, jangan sampai lupa bahwa semua ini sudah digariskan. Kemampuan kita terbatas bukan? Lalu mengapa kita memikirkan banyak hal diluar kendali kita?

Satu yang paling penting, jangan sampai hancurmu menghancurkanmu. Jangan sampai sedih menghanyutkanmu. Aku, kamu, kita  semua punya Allah. Saat jalanmu gelap, saat hidupmu terasa berat sekali, saat hatimu sangat sunyi, sungguh kau tak pernah sendiri, dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun keadaannya yakinlah innallahamaana.

Seburuk apapun keadaan, akan selalu ada harap kebaikan untuk masa depan.

Selambat apapun kau berjalan, tak masalah, pastikan saja untuk terus berjalan.

Jangan terburu-buru, jangan tergesa-gesa, setiap dari kita punya alur cerita yang berbeda.

Apapun yang kau miliki saat ini, terima seutuhnya semua ini, jalani dengan sepenuh hati, dan syukuri apapun yang terjadi.

Allah selalu bersama kita, percayalah kita mampu melewati semuanya.

Bismillah, semoga kita mampu melewati semuanya dengan maksimal, semoga kita tidak lupa tujuan akhir kita, semoga Allah memberikan kelancaran, kemudahan, kekuatan, ketabahan, pertolongan dan juga keberkahan kepada kita semua dalam menjalankan titipan kehidupan dunia yang sementara ini.

Aamiin..

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

BERSYUKURLAH

Oleh: Wihda Ikvina Anfa’ul Umat

Jika satu saat inginmu tak tersampai, bacalah judul bait ini

Kamu adalah manusia kuat

Tak peduli seberapapun langkahmu terjatuh

Kamu adalah baris kedua bait ini

 

Bukanlah gagal menjadi alasan

Berhentilah terlebih dahulu, nanti kau bisa coba lagi

Lihatlah pencapaian itu!

Bukankah kamu Harusnya seperti judul bait-bait ini

Kamu manusia Hebat!

 

Tidak akan ada hidup semudah anganmu

Namun tidak akan ada juga hidup setegar pilihanmu

Bukankan berdiri menyesal saat ini  adalah bukti usahamu dulu

Kamu masih menjadi orang baris terakhir bait kedua

 

Aku tak pernah menyebutmu pecundang

Kamu sungguh lebih baik dari itu

Deskripsi tentangmu, kutuliskan pada baris bait setelah ini

 

 

Kamu telah berusaha.

Bait ini singkat

Aku hendak menguatkan

Tidak lagi menjatuhkan

Rasanya sangat muna mengkritikmu tanpa melihat perjuanganmu

Sebagai temanmu, kamu adalah manusia yang tak pantas murung berlebihan.

Sekali lagi, Sekali lagi, sekali lagi

Apa yang harus kamu lakukan, ada pada judul bait-bait ini.

 

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan  mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Perihal Pinta

Oleh : Khikmatul Laili Desiyani

Kusebut satu pinta
Lagi kuminta pinta yang sama
Terus saja terucap di setiap jeda

Perihal pinta yang sama
Apa yang salah dengannya?
Mengapa tak kunjung jadi nyata?

Salahkah aku dalam meminta?
Kelirukah ucapku dalam doa?

Oh tidak ternyata
Bukankah semua sudah tertata
Bukankah kau hanya menjalankan semata
Lalu bagaimana bisa kau memaksa

Sudah sudah.. jangan keras kepala
Kau tidak punya hak sebagai sutradara
Kau hanyalah lakon utama
Bagian kecil dari kefanaan dunia

Perihal pinta
Katakan saja
Pintakan pada Nya

Perihal cerita
Bukankah ini skenario terbaik-Nya
Cukup kan syukur dalam jiwa
Tentram kan rasa dalam menerima

Katakan pada jiwa
“Kisah ini sementara”
“Dunia ini fana”

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Belajarlah

Oleh: Amanatul Khomisah

Belajarlah

Karena hidupmu akan berubah

Pandanganmu kan cerah

Masa depanmu kan terarah

Sunyi, gersang, redup

Itulah dirimu

12 tahun kujalani penuh liku dan pilu

Diriku hanya insan biasa, yang masih haus akan ilmu

Demi kemenangan sejati

Aku harus bangkit, bangkit, dan bangkit.

Bukan masalah gelar ataupun pangkat

Melainkan masalah jati diri

Bukan tentang kaya

Namun tentang perjuangan

Di negeri ini aku menuntut ilmu mencari hal baru dalam sebuah titik temu

Tinta hitam dan tumpukan lembaran kertas putih menjadi saksi perjuangan

Belajarlah

Jangan biarkan otakmu membeku

Asahlah layaknya sebuah pisau yang tajam

Yakin bahwa masa depan kan datang secerah bintang

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Pilu di Palu

oleh: Salma Hamdiah

Banyak yang bisa diagendakan

Tapi tidak dengan bencana

Dia datang begitu saja

saat sang pencipta memerintah

Bahkan tanpa ada batasannya

Aku kira hari itu kiamat

Kota ku begitu berbeda dengan sebelumnya

Tanahnya, pantai nya,

dan suasana di dalamnya

Saat itu tak ada lagi tawa

Bahagia juga lenyap seketika

Masih jelas dibenakku saat tanah menari dengan sesukanya

Pantai pun ikut meluapkan amarahnya

Semua sanak saudara

Berhamburan entah kemana

Tuhan mengambil beberapa dari kami

Aku tak tahu persis apa maksud-Nya

Besok, tepat dua tahun yang lalu

Dan pilu di Palu belum juga berlalu

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Personal Branding: Selangkah Lebih Maju

Oleh: Fafi Masiroh

Dewasa ini, seiring dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan yang semakin maju mendorong masyarakat untuk saling berinovasi dalam berbagai bidang. Salah satu alasan mereka dalam turut serta ikut mengembangkan diri dalam berinovasi yaitu untuk menaikkan tingkat Personal branding kepada khalayak umum. Seiring semakin bertambah usia, pengetahuan dan pengalaman, membangun personal branding terlebih di tengah kemajuan teknologi dan pengetahuan yang sangat pesat sangatlah penting. Khususnya bagi para millenial yang mulai ingin memperkenalkan dirinya secara luas, baik meliputi latar belakang mereka dari segi pendidikan, keahlian, atau pencapain serta prestasi mereka kepada khalayak umum untuk terjun ke masyarakat. Personal Branding sendiri secara bahasa yaitu terkait citra diri.  Branding dilakukan untuk memperoleh kepercayaan (trust) serta dengan tujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri atas citra diri terkait integritas, niat dan kemampuan. Personal Branding dibangun bukan hanya untuk perkara perihal materiel ( to get money ) saja, lebih dari itu dengan membangun personal branding yang bagus dan menarik, mampu membantu kita untuk tetap manjaga eksistensitas pribadi di tengah derasnya arus perubahan.

Untuk membangun personal branding yang baik dan menarik, terdapat tiga hal yang mampu menopang personal branding di antaranya yaitu:

  1. Prestasi, tidak dapat dipungkiri bahwa prestasi memberikan impact yang besar untuk mendapatkan kepercayaan dari pribadi ataupun orang lain. Memiliki prestasi memberikan stigma yang cukup besar bagi orang lain sebagai bukti bahwa kita berkompeten terhadap bidang prestasi yang telah kita capai. Misalnya seperti Pernah berbicara di depan Bapak Presiden dalam acar tertentu, menerbitkan buku, juara blog ataupun lainnya. Satu hal yang perlu dicatat, bahwa prestasi tidak selalu dalam ruang lingkup akademik. Prestasi sangat luas cakupannya.
  2. Kreasi, bila kamu kriteria orang yang  suka berkreasi dan berinovasi maka kembangkan terus bakat itu. Terlebih di tengah perkembangan teknologi untuk berkreasi sepertinya jauh lebih mudah. Misalnya dengan berkreasi membuat konten youtube, blog, podcast yang mampu memberikan manfaat bagi khalayak umum. Atau bisa juga berkreasi dalam wujud barang seperti membuat design vektor atau lainnya. Lebih lebih jika kreasimu sudah memiliki hak paten, tentu saja tingkat personal branding mu semakin memberikaj kepercayaan lebih kepada orang lain.
  3. Sertifikasi, dan cara paling mudah untuk membangun personal branding yaitu denga memperoleh sertifikasi. Misalnya sertifikasi terkait public speaking, writing atau lainnya.

Untuk lebih mudah memperoleh salah satu minimal di antar tiga hal tersebut, kamu harus tahu terlebih dahulu tujuan serta cita citamu. Kemudian berikutnya kamu bisa untuk lebih fokus terhadap satu hal yang ingin kamu capai dalam membangun personal branding. Lebih dari itu, personal branding tidak hanya mendeskribsikan profil kamu tekait prestasi,kreasi dan sertifikasi. Akan tetapi dengan personal branding seseorang dapat mengidentifikasikan personalitas diri. Orang tidak membeli produk dan jasa. Mereka membeli relasi, cerita dan magic (Seth Godin). Karena branding tidak tentang apa yang harus kamu katakan kepada orang lain, tetapi tentang apa yang orang lain katakan tentang kamu.

Penulis merupakan mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Halaqah Virtual: Perempuan Ulama 2020 “Dakwah di Media Sosial dan Penguatan Literasi Pesantren”

Oleh: Emi Rahmawati

Pada tanggal 20 September 2020, Pusat Studi Pesantren kembali menyelenggarakan sebuah halaqah secara virtual bertema “Dakwah di Media Sosial dan Penguatan Literasi Pesantren”. Halaqah virtual kali ini merupakan Halaqah Virtual Perempuan Ulama edisi ke-11. Halaqah edisi ke-11 ini dihadiri oleh tiga pembicara, yang salah satu di antaranya merupakan pengasuh Pesantren Riset Al-Muhtada, Dr. Dani Muhtada, M.Ag., M.P.A.. Narasumber lainnya adalah Gus Ahmad Mundzir, dari pesantren Sirajuth Tholibin Semarang dan Ning Siti Rofiah, dari Pesantren At-Taharruyah, Semarang.

Pusat Studi Pesantren (PSP) adalah lembaga nirlaba yang diniatkan untuk menjadi wadah bagi proses pengkajian dunia kepesantrenan dan pengembangan pemikiran islam secara umum, serta wadah bagi jejaring pesantren yang mengembangkan wawasan yang lebih moderat dan terbuka. PSP didirikan oleh Ahmad Ubaidillah pada 21 September 2007 di Bogor.

Dia awal halaqah, Pak Ahmad Ubaidillah mengatakan, “Melalui halaqah ini, kami berharap perempuan-perempuan yang memiliki latar belakang keilmuan pesantren tidak hanya aktif melakukan aktifiitas dakwah secara offline, tapi juga mulai menjadikan media sosial sebagai salah satu medan juang kita bersama. Selain itu kami juga mendorong agar para Nyai, Ning, Santri untuk melakukan upaya penguatan literasi pesantren. Dan seharusnya literasi pesantren dapat kita diseminasi lebih luas lagi.”

Halaqah Perempuan Ulama 2020 ini membahas mengenai bagaimana jalan dakwah pesantren pada dunia luas melalui media sosial, dan juga upaya pesantren dalam melakukan penguatan listerasi pesantren, serta bagaimana perempuan turut andil dalam upaya penguatan literasi pesantren. Gus Ahmad Mundzir yang merupakan praktisi media sosial dakwah mengatakan, bagaimana ide orang pesantren bisa dibaca oleh orang luar, kalau dia tidak menyebarkan keluar, maka minimal menulislah. Jadi, agar literasi yang sudah menjadi budaya di pesantren bisa disebarluaskan, maka kita harus dapat menuangkannya di media sosial, supaya khazanah keislaman dalam pesantren dapat dijangkau oleh banyak umat.

Tingkat produktifitas perempuan dalam hal menulis di media sosial masih sangat rendah. Dalam chanel Nu Online, pengisi media juga didominasi oleh laki-laki, perbandingan laki-laki dan perempuan menunjukkan 70% : 30%. Gus munzir menghimbau agar kita lebih aktif menggerakkan dakwah di media sosial, jangan sampai kalah dengan orang-orang yang berani mengumumkan hal-hal buruk, sedangkan kita yang baik tidak berani terang-terangan.

Ning Rofiah juga menegaskan bahwa budaya literasi sesungguhnya sudah mengakar di pesantren. Akan tetapi yang menjadi tantangan di masa sekarang ini adalah derasnya arus media sosial, sehingga media akan sangat rentan sekali dikuasai oleh konten-konten yang tidak bisa dipertanggungjawabkan Hal inilah yang seharusnya dapat kita tengahi, orang-orang pesantren diharapkan bisa hadir dengan khazanah keislamannya yang jauh lebih ramah dan juga dapat menyebarkan nilai islam yang rahmatan lil-alamin.

Pendidikan keadilan gender, seringkali dipahami secara tidak utuh. Pesantren seharusnya dapat meningkatkan pemahaman bagi perempuan terkait keadilan gender, bahwa dalam pandangan islam, seorang manusia mempunyai derajad yang sama.  Seorang perempuan harus menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang utuh: makhluk fisik, makhluk intelektual, makhluk spiritual. Sudah saatnya perempuan-perempuan pesantren, Nyai, Ning dapat andil menyebarluaskan ilmunya, bukan lagi pada sebatas dakwah lokal, melainkan melalui media sosial juga.

Dr. Dani dalam halaqah ini mengatakan bahwa pesantren merupakan wajah islam indonesia, yaitu benteng islam wasathiyah (islam yang terbuka, toleran, moderat, dan mengadopsi nilai-nilai budaya lokal). Islam di indonesia memiliki tantangan yang cukup besar, yakni menguatnya penyebaran paham radikalisme dan terorisme melalui internet dan media sosial. Sesungguhnya pesantren memiliki segala macam sumber daya untuk memegang kendali otoritas keislaman, seperti kyai, ustaz, kitab, santri, kajian keagamaan. Namun sayangnya otoritas keislaman di dunia maya tidak dikuasai oleh kalangan pesantren.

Menurut Dr. Dani, problem literasi pesantren adalah oleh beberapa hal, di antaranya adalah tidak banyaknya kyai yang mampu menuangkan gagasannya melalui tulisan dan menyebarluaskannya dan tidak banyak pesantren yang memfasilitasi santri mengembangkan keterampilan menulis. Dr. Dani menawarkan beberapa strategi dalam upaya penguatan literasi pesantren, yakni pengembangan fasilitas literasi pesantren; kurikulum didesain untuk mengembangkan literasi santri; pemanfaatan media sosial; pendampingan literasi digital untuk ustaz dan kyai; dan kerja sama digital. Pernyataan terakhir Dr. Dani dalam halaqah ini yaitu, penguatan literasi pesantren adalah kunci untuk menguatkan wacana islam wasathiyah di indonesia sekaligus mengembalikan otoritas keagamaan pada ahlinya.

Penulis adalah Mahasantri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.