Reading as a Habit

By :

Andrea Amalia Salma

I ever heard a statement that you are the environment that you’re in, you are the people that you’re hang out with and you’re the information that you consume. From that statement, we know that it’s so important to live in a good environment, choose people to spend most of your time with and to gain as much information as you can. One of the things you can do to upgrade your self is by reading. Reading is a good habit. It trains your brain. Make you see the other side of the world and improves your memory and concentration. By reading you can also take lessons that the authors may have taken decades to learn, to consumed, and written it into a book.

Like we all know, the first word revealed in the Qur’an is “Read”, as a Muslim we should make reading as a habit. Like exercise that can train our body, Reading Train our brains.

Developing good reading habits since we were kids are so important. Family plays a quite effective role in fostering children’s reading habit. Parents can read stories for their children before sleep, taking children to borrow books from libraries or even make a library at home and read books together.

To make people like reading, we have to make the place to read books engaging. One thing we can do is to make libraries cozy places to hangout. Like in Finland, libraries are not only places to read, but also to socialize. They also offer more than books, including lending e-publications, sports equipment, and other “items for occasional use”.

Honestly, I myself also need to develop reading habit. To broaden my knowledge I can’t read novels only, I also have to read self-help, biographies and other kinds of books. But the thing is, like in my old school’s library and public libraries, there are not many kinds of books and most of them are outdated.

I hope that Indonesia can improve their libraries, be it from the facilities, the interior and also the books. So that Indonesian will visit libraries more often and develop their reading skills.

The writer is Santri Pesantren Riset Al-Muhtada  and Students of the Faculty of Language and Art, Universitas Negeri Semarang

Tirakatku untuk Menggapai Syurga-Mu

Oleh:

Rikha Zulia

 

Pernakah kalian mendengar kata “tirakat” sobat? Sebagian orang akan merasa asing dengan 7 huruf yang dirangkai menjadi kata “tirakat” ini. Namun banyak pula telinga yang sangat familiar dengan kata tirakat. Tirakat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti menahan hawa nafsu. Ya menahan hawa nafsu yang dapat mengganggu dan menjerumuskan manusia kelembah setan. Tujuan dari tirakat yaitu untuk membentengi diri dan membawa diri kejannah-Nya.

Pelaksanaan tirakat memang tak semudah mengucapkannya. Tanpa niat, tekad dan cinta tirakat takkan menjadi indah dan penuh berkah. Walau demikian, banyak sekali para pencari berkah dan penuntut ilmu ruhaniyah yang gigih dan semangat menjalankannya. Pengaplikasian tirakat dapat dilakukan dengan berbagai cara. Berpuasa, sholat malam, membaca Al-Quran, dzikir, hingga hidup sederhanapun menjadi bagiannya. Golongan manusia yang sangat gigih menjalankan tirakat ini adalah mereka para tholabulilmi ( penuntutilmu) khususnya para santri. Para penuntut ilmu ini bagai seorang pertapa yang harus menjaga diri, fokus, tenang, dan meninggalkan kemewahan dunia yang fana. Mengapa? Karena sepanjang proses menuntut ilmu akan ada berjuta kesenangan yang melalaikan, kemewahan yang menjerumuskan dan kebathilan yang menjadikan salah jalan. Disinilah seorang tholabulilmi harus mampu menjalankan tirakatnya, agar kelak dapat tercapailah cita-cita dan kemuliaan ilmunya.

Menurut para kiyai salaf (yakni para kiyai yang sangat berpegang teguh pada Al-Quran, hadist, dan kitab-kitab salaf karangan ulama-ulama alim yang mulia) tirakat sangat menentukan keberhasilan atas ikhtiyar (usaha) yang dijalankannya. Seorang pelajar yang ingin ilmunya barokah, manfaat dan mulia maka hendaklah menyertakan tirakat dalam proses belajarnya. Seorang wanita yang ingin memilki keturunan cerdas, sholih, sholikhah dan berilmu pengetahuan juga harus memperbanyak tirakatnya. Tirakat seorang wanita inilah yang sangat manjur dan insya Allah diijabah oleh sang Maha Pencipta. Tirakat seorang wanita yang paling mustajab (terkabul) ialah senantiasa berpuasa pada hari Senin dan Kamis serta sholat malam yang istiqomah (terus-menerus).

Ada sebuah falsafah jawa mengenai keutamaan tirakat ini “ bapa tapa, anak nampa, putu melu, buyut katut, canggah munggah” yang artinya yaitu“ orang tua yang tirakat, anak ikut mendapatkan barokahnya, cucu ikut menikmati, buyut pun dapat, canggah harus mampu meningkatkan tirakatnya lagi. Falsafah ini seirama dengan sebuah dalil dalam Al-Quran yaitu pada QS. Ath-Thurr: 21 yang artinya: Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. Semoga bermanfaat.

Wallahua’alamubissowab

 

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

Letak Kebenaran, Absolute Truth

Oleh :

Gema Aditya Mahendra

 

“Everything we hear is an opinion, not a fact. Everthing we see is a perspective not the truth” – Marcus Aurelius. Apakah ada yang disebut dengan kebenaran mutlak? Misalkan kamu mengatakan bahwa warna lautan itu adalah biru, kemudian seorang tunanetra mengatakan bahwa warna lautan itu hitam pekat. Siapa yang benar? siapa yang salah? Dan apa tolok ukurnya untuk menyatakan salah dan benar?. Jika ada sebuah pernyataan yang menyatakan “Jakarta merupakan ibukota Indonesia” Apakah pernyataan tersebut mutlak benar? Bisa saja benar namun bisa juga salah, sebab sebelumnya Batavia, Jayakarta, dan Yogyakarta, pernah menjadi Ibukota Indonesia. Tidak ada jaminan pula bahwa 5 tahun kedepan Jakarta masih menjadi ibukota Indonesia, sekarang saja sedang digadangkan isu mengenai pemindahan ibukota dari Jakarta ke Kalimantan. Artinya pernyataan tersebut belum mutlak benar, sebab masih dapat berubah nilainya bergantung pada waktu tertentu. Lalu apa yang disebut dengan kebenaran mutlak?

Apakah matematika sebagai ilmu ‘pasti’ adalah letak kebenaran mutlak?. Bagi anda 2+2 adalah 4, ya bisa saja benar jika merujuk pada penyepakatan yang telah dilakukan oleh para matematikawan sebelumnya. Lalu bagaimana jika saya mengatakan bahwa 2+2=22 karena nilai “+” menurut hemat saya adalah mekanis mendekatkan dua objek menjadi satu, apakah saya salah? Belum tentu juga karena matematika hanyalah bahasa. Penafsiran kita terhadap objek yang kita anggap memiliki pola dan periode kita konversikan kedalam angka-angka itulah yang kita sebut sebagai matematika. Bahkan didunia yang memuat berbagai macam entitas pun masih menjadi perdebatan apakah setiap objek dengan objek lain itu memiliki kausalitas yang berpola dan terstruktur (Pattern and Periodic) atau sekadar objek acak yang kebetulan ada (Randomness Theory).

Kebenaran mutlak atau absolute truth adalah kebenaran hakiki, sesuatu yang dapat kita nyatakan keseluruhan secara objektif. Kebenaran mutlak itu bersifat tunggal dan merupakan titik acuan bagi apapun yang dapat dikatakan relatif. Kebenaran mutlak ini juga harus universal dan berlaku untuk apa pun, siapa pun, dan kapan pun. Kebenaran mutlak juga bersifat kekal artinya tidak temporer, tidak akan berubah jika dipengaruhi oleh ruang dan waktu. Kebenaran mutlak juga integral, artinya tidak boleh diperdebatkan dan tanpa salah sedikitpun (Kebenaran sesungguhnya). Contoh-contoh mengenai warna, ibukota Jakarta, dan matematika yang sudah saya sebutkan masih merupakan kebenaran relatif karena masih terikat oleh ruang waktu (kondisional) dan tidak bersifat universal.

Antitesis dari Absoluth Truth adalah Teori Keraguan Ala Rene Descartes (Scepticism Paradigm) yang menganggap bahwa basis kepercayaan haruslah mulai dari nol. Semua itu relatif, tidak ada kebenaran absolut. Apakah Ir.Soekarno itu benar-benar ada? Untuk meyakinkan bahwa beliau ada, paling tidak kamu harus melihatnya secara langsung dengan mata kepalamu sendiri walaupun tentu sebenarnya masih lebih kompleks jika menganggap bahwa dunia ini hanyalah propaganda dari simulasi tertentu. Memang benar ribuan ahli sejarah dan bahkan ilmuwan pun saat ini menyatakan bahwa Ir.Soekarno memang benar-benar ada karena bisa ditelisik rekam jejaknya, foto lawas beliau, dan konfrensi pers yang ada kala itu. Tapi tetap para penganut skeptisisme ini menanggap bahwa hal tersebut bisa jadi salah, Ir. Soekarno bisa jadi tidak eksis, dunia ini bisa jadi hanya ilusi, dan lain sebagainya.

Jika ingin melangkah lebih jauh, proses dialektika dari tesis Absoluth Truth dan antitesisnya yaitu Scepticism/Relativity ini melahirkan sintesis baru, yaitu Kesepakatan. Kesepakatan menyatakan bahwa suatu fenomena bisa mendekati kebenaran tapi tidak seutuhnya. Sesuatu yang dianggap benar bisa jadi mendekati kebenaran ketika setiap sumber informasi memiliki jawaban seragam atas fenomena yang diteliti. Misalkan 99% dari 1 juta orang menyatakan bahwa warna laut itu biru, maka berdasarkan teori kesepakatan dapat kita jadikan pegangan bahwa warna laut itu biru meskipun secara teori logika hal tersebut dikategorikan Argumentum Ad Populum Fallacy.

Klaim yang mengatakan bahwa kesepakatan rasio adalah mutlak objektif merupakan kekeliruan. Sebab kedua hal tersebut dua hal yang kontradiktif. Kesepakatan adalah intersubjektif bukan keobjektifan. Klaim sains pun sejatinya menurut asumsi ekstrim skeptisisme, juga masih bisa diragukan sebagai subjektivitas konvensional yang antroposentris. Sementara kita terbatas pada indera-indera ini, kita hanya bisa membedah suatu objek analisis melalui indera yang kita punyai saja. Kita tidak akan pernah tahu bila suatu objek analisis ternyata bisa dirasakan, di-experience melampaui indera yang kita punya atau properti yang dimilikinya lebih dari yang kita ketahui, hanya karena “kelebihan” itu tak terdeteksi oleh kita. Because we don’t have the sense. Sebagai contoh begini, misalkan saja ada hewan A yang karnivora, kucing. Dia tidak bisa mengecap rasa manis. Jika kucing ini melakukan observasi dan membuat conclusion/claim science terhadap gula, maka hasilnya akan parsial (tidak utuh) karena dia tidak suka manis tau bahkan tak punya sense untuk merasakan manis. Hasil observasi kucing hanya terbatas pada kemampuan subjektifnya. Coba bayangkan jika hal ini terjadi pada manusia (meskipun secara biologis kita adalah hewan, Zoon Politicon), kejujuran belum tentu bernilai positif, seperti yang disampaikan tadi. Positif atau negatif dari kejujuran itu jatuh pada sistem moralitas yang dianut. Jujur itu positif atau tidaknya tergantung outcome atau hasil akhirnya.

Bayangkan di suatu negara miskin yang sedang mengalami krisis berat, huru-hara dan kelompok militan mengepung masyarakat. Kelompok militan ini punya armada perang besar karena di-backing oleh negara Adidaya yang mau menghancurkan negara tersebut atas dendam masa lalu. Kemudian seorang presiden dari negara miskin tersebut memegang “kunci” final yang akan menentukan nasib seluruh seratus juta masyakaratnya yang disandera oleh negara adidaya tersebut. Dia hanya perlu menjawab singkat “iya/tidak”, jika iya maka dia berbohong. Namun, kebohongannya akan membebaskan seratus juta nyawa masyarakat yang innocent dan unarmed. Namun jika dia menjawab jujur dengan berkata “tidak”, dia jujur namun tidak tak akan menyelamatkan siapa-siapa selain dirinya sendiri. Semua hidup mati ratusan juta rakyatnya bergantung pada ujung lidahnya, sebatas kata ya dan tidak. Jika jujur, semua orang akan mati. Jika berbohong, semua orang akan selamat. Jadi haruskah dia berbohong atau tidak? Jawabannya jelas relatif.

Sebagai simpulan, di dunia yang serba relatif ini, maka kembali ke pertanyaan awal, apakah ada yang disebut dengan absolute truth? Yaa saya sendiri tidak bisa memastikan. Tapi kalau pun ada, yang jelas manusia bukanlah letak sumber kebenaran absolute truth karena manusia tidak memenuhi syarat-syaratnya. Ketika absolute truth terdapat pada objek lain, dan manusia berargumen untuk menafsirkan setiap kata, sifat, dan perbuatan yang dikeluarkan oleh objek tersebut maka akan menjadi relatif karena argumen tersebut dikeluarkan oleh manusia. Kita anggap absolute truth dari rasa apel adalah manis, namun
ketika manusia mengucapkan bahwa apel itu manis, maka akan menjadi relatif. Oleh sebab itu, mustahil kebenaran mutlak dimiliki oleh manusia. Dengan sifat manusia yang serba relatif, paling tidak kita harus sadar bahwa setiap pendirian, keputusan, dan perbuatan yang kita lakukan hanyalah kebenaran relatif. Kita terkadang melupakan hal ini dan cenderung lebih suka memutlakkan sesuatu yang relatif.

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang

Kebebasan Manusia

Oleh:

Rayyen Al-Khair

Akal dan budi pekerti adalah anugrah dari yang maha kuasa yang diberikan kepada manusia modern. Dua hal inilah yang membuat ras homosapiens lebih unggul dan menjadi pemimpin di muka bumi. Akal dan budi pekerti kemudian menjadi gerigi penggerak peradaban kaum manusia di muka bumi. kedua hal inilah yang mengundang inovasi-inovasi dalam kehidupan manusia. Mulai dari inovasi yang berdampak kecil seperti pakaian dan arsitektur hingga ke ranah yang lebih besar seperti bioteknologi. Berpikir dan bertindak adalah hak asasi yang dimiliki setiap manusia yang tak bisa diambil atau dihalangi oleh perorangan maupun sebuah institusi seperti negara namun ia harus sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.

Praktik pelarangan berpikir dan bertindak pernah terjadi di berbagai belahan dunia bahkan ada yang masih berjalan hingga saat ini. Yang paling terkenal adalah penanaman dogma agama oleh gereja pada abad kegelapan di benua biru. Pada saat itu gereja memiliki supremasi diatas raja dan memiliki legitimasi atas keputusan agama dan bernegara. Demi menjaga legitimasi ini, mereka melarang segala bentuk tindakan yang bertentangan dengan kehendak gereja saat itu yang akhirnya menghambat perkembangan ilmu pengetahuan saat itu. Akibatnya masyarakat nya takut jika hal yang mereka usung bertentangan dengan kehendak gereja.

Tidak hanya gereja saja namun, negara yang sistem pemerintahannya monarki absolut seperti prancis juga melarang kebebasan berpikir dan bertindak saat itu.Singkat cerita lahirlah pemikiran yang tidak puas dengan kondisi saat itu dan ingin mengadakan perubahan seperti Imanuel Kant. Ia memiliki semboyan yang kemudian hari menumbangkan tirani kerajaan di negrinya sendiri yaitu “sapere aude” yang artinya beranilah berpikir sendiri. Semboyan ini yang nantinya akan meruntuhkan supremasi gereja dan melahirkan inovasi di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Kemudian negara dibentuk untuk mengakomodir kepentingan dan hak-hak rakyat. Dengan runtuhnya dogma gereja dan absolutisme raja saat itu negara-negara di benua biru berkembang pesat hingga saat ini.

Banyak yang berkata bahwasanya kemajuan peradaban tersebut disebabkan oleh adanya kebebasan berpikir dan bependapat. Namun apa hakikat kebebasan itu sendiri ? Apakah ia adalah bebas dari segala macam perbudakan ? Apakah ia bebas untuk berpikir dan bependapat tanpa dihalangi, dipaksa atau dilarang oleh perorangan maupun sebuah institusi ? Atau bebas itu adalah keadaan dimana kita tidak dibebani atau terikat sesuatu dalam melakukan apapun ?

Sejatinya orang menyuarakan kebebasan untuk keadilan.Karena, pihak yang menyuarakan biasanya adalah yang mengalami ketidakadilan atau melihat ketidakadilan. Namun, apa definisi adil dalam konteks kebebasan ? Apakah kemudian semua orang dapat mendifinisikan keadilan menurut masing-masing sebagai bentuk dari kebebasan ? Lalu bagaimana jika keadilan yang didefinisikan oleh setiap orang berbeda dan kemudian menimbulkan benturan ? Jika seperti ini maka definisi kebebasan tidak terukur dan nantinya dapat dipakai untuk sesuatu yang bertolak belakang dengan keadilan itu sendiri.

Saya hendak mengambil contoh kebebasan dari benua yang lantang menggemakan kebebasan. Misal seseorang menuntut dirinya untuk bebas “bergaul” dengan Lawan jenis sedangkan mereka tidak memiliki ikatan yang sah baik yang diatur agama maupun konstitusi. Atau lebih parahnya lagi dia menuntut untuk bergaul dengan sejenisnya dan berdalih atas kebebasan dan keadilan. Namun, jika ia ditanya apabila ibunya atau anak perempuannya mengalami hal yang sama yang dilakukan oleh orang lain dengan dalih kebebasan apakah ia bisa menerimanya ? Lalu bagaimana jika perempuan yang telah ia gauli atau pihak lain yang terikat dengan perempuan tersebut ternyata tidak menerimanya ? Apakah ini yang dimaksud kebebasan ? Tidak terikat apapun dan bebas melakukan apapun atas dasar hak asasi ? Jika ini yang dimaksud maka, kebebasan yang seperti ini rawan di gunakan sebagai legitimasi perbuatan yang merugikan dan cenderung mengedepankan hawa nafsu pribadi. Sejatinya ini bukanlah kebebasan manusia yang berpikir seperti ini bukanlah manusia yang merdeka akalnya namun diperbudak hawa nafsu.

Lalu seperti apa kebebasan itu ? Negara dan agama yang paling kuat mengatur definisi kebebasan. Menurut negara kepentingan perorangan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat sedangkan agama mengarahkan hidup manusia sesuai dengan kehendak tuhan. Mana yang lebih utama menurut agama atau negara ? nilai kesopanan dan kesusilaan bisa berubah perlahan-lahan tidak dengan agama bisa dibilang kebenaran yang ada pada masyarakat itu relatif tidak halnya pada agama. Saya tidak berkata bahwa kita harus menjalankan negara dengan dasar agama namun, perlu ada peraturan yang berasal dari agama karena kita bukan negara sekuler dan pancasila menolak paham sekuler. Mengapa kita tidak memberi ruang bagi sekulerisme ? Seperti yang telah saya katakan bahwa pemahaman tentang kesusilaan dan kesopanan dapat bergeser karena suatu proses yang dinamakan perubahan sosial. Kembali ke pembahasan mengenai kebebasan. Menurut agama saya kebebasan adalah ketika kita tidak mendahulukan hawa nafsu, tidak mengkultuskan jabatan,harta dan nilai sosial lainya serta membebaskan diri dari kekhawatiran rezeki yang pasti diberi. Dengan begini definisi kebebasan lebih terukur dan tidak bisa dimanipulasi untuk kepentingansemata.

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang

Pulang Ke Rumah

Oleh:

Emi Rahmawati

 

Bumi pertiwi, bumi Indonesia

Menangis kala terdengar satu khabar

Khabar lara dari putra terbaik bangsa

Ia harus pulang

 

Usai sudah perjuangannya di bumi Indonesia

Kini pahlawan kita menemui pemiliknya

Menemui Yang Terkasih di Taman Adnan

Menemui cinta ilahinya di Taman Nirwana

Melerai rindu tatkala kafan itu terbalut

di tubuh juwitanya,

tubuh itu terdiam hingga dia ikut bungkam,

riwayat itu begitu menyayat fuad

 

Teringat saat kepulangannya malam-malam itu

Di rumah ketika Ainun masih berdaya meyambut

Mungkin saat ini di bangku talun,

senyum Ainun memapaknya : “Hai, kamu sudah di sini?”

Dan mungkin sekarang kamilah yang akan merindu mereka

 

Kau hebat,

Terimakasih pahlawan,

Terimakasih pejuang,

Terimakasih untuk sumpahmu pada tanah air

Teknologi canggih karya cinta dan fikir

Pengabdian jiwa untuk pembangunan peradaban negeri

Seperti yang kau katakan:

Menjadi pejuang haruslah terlentang, jatuh, perih, kesal

 

Permintaan kami pada Ilahi:

Dijadikan engkau berdua bahagia

atas perihmu dulu untuk bumiNya

Karya dan fikirmu akan selalu terkenang

Untuk: Bp. B.J. Habibie

 

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang

Komik Sebagai Media Pembelajaran Anak

Oleh :

Moh. Naelul A

Dalam pendidikan terutama pendidikan dasar, gambar menjadi hal yang  tidak lepas dari bahan pembelajaran. Gambar menjadi suatu hal yang menarik untuk dilihat oleh anak-anak, karena sebagian besar buku yang diperuntukan anak adalah buku yang berisikan gambar. Salah satunya ialah komik. Komik merupakan sebuah buku yang berisikan cerita disertai gambar-gambar yang kreatif dan imajinatif, diceritakan langsung melalui dialog-dialog antar tokoh yang menggambarkan adegan atau situasi yang sedang diceritakan. Sesuai dengan yang dideskripsikan, komik banyak diminati oleh anak-anak. Tidak hanya terkesan dengan gambarnya saja, namun sepaket dengan cerita yang disuguhkan dalam komik tersebut.

Dalam pembelajaran dasar khususnya TK dan SD saat ini sering kali menggunakan buku bergambar atau cerita bergambar sebagai media pendukung pembelajaran dasar anak, komik juga menjadi salah satu bagian dari pembelajaran tersebut. Media pembelajarana dalah media yang membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan intruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran. Penggunaan media yang tepat akan meningkatkan hasil belajar dan membuat proses belajar menjadi menarik dan menyenangkan, sekaligus mengurangi kesalahpahaman dan ketidakjelasan.

Komik sebagai media pembelajaran anak berperan sebagai alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan pembelajaran melalui gambar yang pantas disajikan untuk anak-anak. Contoh salah satunya komik sekaligus animasi Syamil dan Dodo yang menyampaikan pesan melalui cerita-cerita Islami yang berfokus untuk mendidik akhlak anak-anak zaman sekarang dengan gaya gambar serta gaya cerita yang mudah diterima dan pantas disajikan untuk anak. Dari contoh tersebut jelas komik menjadi media pembelajaran yang menarik dan menyenangkan untuk diikuti jika diterapkan langsung dalam pembelajaran. Sebagai mana kita tahu, anak-anak sekarang lebih mengenal tokoh komik dari pada pelajaran yang ia dapatkan di sekolah diantaranya tokoh dalam komik-komik super hero marvel seperti Spiderman, Superman, Batman, dan lain sebagainya. Dari hal itu, kita bisa menerapkan komik menjadi bahan pembelajaran yang mudah dimengerti dan mudah diingat oleh anak-anak yang membacanya. Peranan seperti ini akan sangat membantu anak dalam belajar.

Secara garis besar menurut Trimo (dalam Mariyanah, 2005:25) media komik dapat dibedakan menjadi dua yaitu komik strip (comic strip) dan buku komik (comic book). Komik strip adalah suatu bentuk komik yang terdiri beberapa panel atau bingkai kolom yang biasanya dimuat dalam koran harian atau majalah, sedangkan yang dimaksud buku komik adalah komik yang sudah berbentuk buku dengan berbagai genre ataupun target pembaca. Dalam konteks media pembelajaran anak biasanya dimuat dalam satu buku atau hanya disisipkan dalam buku ajar tetapi tetap bisa menjadi media pembantu pemahaman anak terhadap apa yang diajarkan.

Sebagai kesimpulan, komik sangat cocok untuk media pembelajaran ataupun pendukung media pembelajaran. Keuntungannya antara lain dapat memotivasi siswa selama proses belajar mengajar, membangkitkan minat membaca dan mengarahkan siswa untuk suka membaca bagi mereka yang notabenya tidak suka membaca. Walaupun demikian komik juga mempunyai kekuranganya itu penyampaian materi pelajaran yang terlalu sederhana, tetapi setidaknya komik menjadi media yang sangat pantas diperuntukan untuk pembelajaran anak.

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang

Diri Punya Ingin, Allah Punya Izin

Oleh:

Muhamad Mahfud Muzadi

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah maha menggetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Tentu saja kita sudah tidak asing lagi dengan kata-kata indah tersebut. Bahkan ketika penulis masih duduk di bangku Aliyah, kata-kata itu selalu dibaca berulang-ulang setiap pagi setelah tadarus bersama. Itulah terjemah surah al-Baqarah ayat 216 yang mengilhami penulis dalam penulisan kali ini. Meskipun sebab turunnya ayat ini berkenaan dengan jihad/perang, tapi bagi penulis sendiri ayat ini dapat diimplementasikan dalam segala hal. Karena memang sejatinya sekecil apapun keinginan manusia, tidak akan terealisasi tanpa adanya izin dari sang pemilik hidup, Allah SWT.

Penulis ingin sedikit berbagipengalaman mengenai judul yang diangkat ini.

Setelah lulus dari pendidikan menengah pertama, penulis mendaftar di salah satu sekolah favorit di Provinsi Jawa Tengah. Prestasi sekolah ini sudah tidak diragukan lagi dan memiliki rekam jejak alumni yang bisa dibilang berhasil pada bidangnya masing-masing. Tentu saja, sekolah ini menjadi idaman bagi orang tua dan siswa SMP. Tak tanggung-tanggung, penulis bisa masuk di sekolah tersebut, bahkan menduduki peringkat kedua dalam jurnal penerimaan peserta didik baru berkat nilai Ujian Nasional yang cukup tinggi didukung oleh piagam-piagam yang pernah diraih.

Suatu kebanggaan sekaligus kehormatan bagi penulis menjadi bagian dari sekolah unggulan ini. Satu semester berjalan, Allah tidak mengizinkan penulis untuk melanjutkan pendidikannya di sekolah ini. Skenario-Nya ini terjadi bukan karena penulis dikeluarkan, tetapi murni keinginan sendiri dari penulis untuk mengundurkan diri. Disayangkan? Memang. Semua orang berkata seperti itu. Tapi inilah skenario yang diberikan oleh Dzat yang membolak-balikkan hati manusia.

Berangkat dari pengalaman ini, penulis mengambil 2 esensi dalam “Diri Punya Ingin, Allah Punya Izin”, yaitu Sabar dan Syukur. Dua akhlak yang terdengar sederhana tetapi sangat sulit penerapannya ketika ekspektasi tidak sesuai dengan realita.

Sabar dalam hal ini yaitu mampu menerima dengan lapang dada apa yang telah menjadi ketetapan Allah meskipun bertolakbelakang dengan keinginan kita. Hendaknya kita selalu yakin bahwa selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa yang telah terjadi. Jika kita kembali ke kisah tadi, penulis akhirnya bersekolah di Madrasah Aliyah. Memang secara akademik kalah jauh dibanding sekolahnya yang sebelumnya, tetapi banyak sekali hikmah yang penulis dapatkan. Salah satunya penulis mampu menguasai Bahasa Arab yang mungkin tidak akan pernah penulis dapatkan di sekolahnya yang dahulu. Meskipun pelajaran ini terbilang baru bagi penulis, tapi justru ini menjadi tantangan baru bagi penulis untuk menguasai bahasa ahli surga tersebut.

Akhlak yang kedua adalah syukur. Syukur berasal dari Bahasa Arab yang artinya berterimakasih. Dalam konteks ini, kita harus tetap bersyukur atas taqdir yang Allah berikan. Karena jelas Allah sudah memerintahkan bahwa jika kita bersyukur pasti Allah akan menambah nikmat kita. Penulis meyakini 100% kebenaran perintah Allah tentang bersyukur ini. Hal ini penulis buktikan dengan penghargaan-penghargaan yang diraih selama sekolah di Madrasah ini. Selain itu, rasa percaya diri penulis juga meningkat dibuktikan dengan berbagai organisasi yang penulis ikuti.

Sebagai akhir dari tulisan ini, penulis berpesan bahwa sebesar apapun keinginan dan cita-cita kita, tetap perizinan hanya milik Allah SWT. Ketika kita sudah berusaha dengan maksimal, tugas kita selanjutnya adalah menyerahkannya kepada Allah SWT. Sehingga apabila harapan tidak sesuai dengan apa yang dicitakan, tanamkanlah dalam diri kita bahwa skenario-Nya selalu yang terbaik.

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang

Sekilas Cerita Malam Keakraban

Oleh:

Khoirul Mumtahanah

Waktu telah menunjukkan pukul 07.00, telah tiba waktunya untuk para mahasiswa kimia UNNES untuk berkumpul dalam satu tempat di parkiran FMIPA. Pagi sekali mereka telah berada di tempat itu demi tugas yang akan mereka kerjakan dalam sebuah kegiatan malam keakraban kovalen.

Wiuuuu.. Wiuuuuu….

Suara toa itu kini terdengar, menandakan acara akan dimulai. Sesegera mungkin mereka menyiapkan diri. Upacara pembukaan pun dimulai tanpa melupakan pengecekan tugas yang telah diberikan. Seperti biasa, ada konsekuensi untuk mereka yang tidak melengkapi tugas. Serangkaian acara pembukaan telah dilaui dan tiba waktunya untuk berangkat ke tempat tujuan malam keakraban, yakni di Singorojo, Kendal.

Gemuruh bis mini bersuara dalam perjalanan, mengiringi tawa para penumpangnya, para mahasiswa kimia. Satu per satu para mahasiswa kimia itu pun tidur karna kelelahan dalam mempersiapkan tugas. Gemuruh bis telah berhenti, manandakan tujuan telah ada di depan mata. Paramahasiswa pun turun menuju tempat yang telah ditentukan. Seperangkat perlegkapan tenda pun diambil dari masing-masing kelompok. Seketika suasana riuh pikuk di depan mata. Mereka bekerja sama dalam mendirikan tenda yang digunaka untuk rumah mereka di sini. Tenda pun berdiri dengan tegaknya karna kerja sama mereka. Setelah itu, makan siang pun dibagikan. Wajah riang itu tidak bisa dipungkiri lagi. Dengan lahapnya mereka menghabiskan makan siang bersama dengan kelompoknya.

Allahu akbar Allahu akbar….

Suara yang tak asing lagi itu mulai terdengar, yakni suara adzan. Para mahasiswa muslim pun sesegera mungkin melaksanakan slah satu kewajibannya, yaitu sholat dzuhur. Acara selanjutnya yaitu pengenalan pengurus HIMAMIA,yakni para panitia dari acara malam keakraban kovalen yang merupakan himpunan dari mahasiswa kimia. Teriakan es teh bersautan di tengah acara itu. Wajarlah, cuaca sangat menyengat hingga menggosongkan kulit.

Malam telah tiba. Kini waktunya untuk para mahasiswa menujukkan bakatnya di depan lebih dari 500 mata memandan, yakni dalam acara inagurasi. Waktu telah menunjukkan pukul 22.15. Waktunya untuk mereka mengistirahatkan pikiran dan hati.

Tak terasa hari telah berganti. Tugas baru pun telah menunggu. Mereka berkumpul di lapangan untuk menantikan hal tersebut. Suara gemuruh yel-yel dan jargon kelompok ikut meramaikannya. Bagi kelompok yang paling kompak dalam menyuarakan yel-yel, dialah yang akan berangkat lebih dulu untuk tracking kovalen. Dalam tracking tersebut, ada 8 pos dan masing-masing pos memiliki cara tersendiri untuk mengakrabkan dirinya dengan adek-adeknya. Pos demi pos telah dilalui. Kini waktunya untuk mereka kembali ke tendanya dan melaksanakan sholat bagi yang muslim. Makanan pun tak lupa dibagikan oleh kakak tingkat kepada adek tingkatnya.

Wiuuuu.. Wiuuuu…

Suara itu terdengar lagi. Para mahasiswa kimia berkumpul lagi di lapangan. Kini, mereka memiliki 1 tugas yang sangat berarti, yakni menyatukan barisan mahasiswa kimia tanpa terputus untuk menyatukan bendera merah putih dan bendera himamia serta menaruhnya dalam bambu yang telah disediakan. Genggaman tangan pun mulai terasa saat hal tersebut terjadi, bahkan genggaman itu lebih kuat daripada baja. Iringan lagu mars hima kimia terdengar saat para kakak hima atang dn ikut menguatkan genggaman itu. Indah sekali dipandang saat kakak tingkat dan adek tingkat bersatu. Tugas pun terselesaikan dengan tepat waktu.

Tak terasa acara demi acara berlalu. Namun, kegiatan masih belum selesai. Waktu hampir senja. Tiba waktunya untuk membereskan tenda dan mengumpulkannya kembali. Setelah itu, mereka pun menuju ke jejeran bis, memasuki bisnya masing-masing kemudian menuju UNNES untuk upacara penutupan. Memang benar akan hal itu, setelah sampai di UNNES, beberapa saat kemudian upacara penutupan dimulai. Hingga tiba waktunya pelepasan co card yang diikuti oleh mahasiswa kimia lainnya. Wajah riang muncul. Akhirnya PPAK jurusan telah berakhir. Begitu senangnya mereka akan hal itu. Kemudian, para mahasiswa pun menuju ke kosnya masing-masing dengan rasa suka cita.

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang

Nikmati Masa Sehatmu Sebelum Masa Sakitmu

Oleh:

Eka Erni N

Kesehatan selalu tampak berharga setelah kita kehilangannya (Jonathan Swift). Pernahkah Anda mengalami sakit atau bahkan hingga di rawat inap? Bagaimana rasanya? Tentu saja sangat tidak enak rasanya dalam melakukan segala aktivitas karena semua terasa berat dan hanya bisa terbaring lemah tak berdaya di atas tempat tidur, sungguh hal yang membosankan. Ketika kita sehat sering kali kita melupakan anugerah yang luar biasa itu. Setelah nikmat sehat itu dicabut, kita baru sadar bahwa tanpa kesehatan segalanya tiada arti.

Setiap orang pasti menginginkan dirinya selalu sehat, baik sehat secara jasmani maupun rohani. Menurut WHO, sehat adalah suatu keadaan sejahtera yang meliputi fisik, mental dan sosial yang tidak hanya bebas dari penyakit atau kecacatan. Jasmani dan rohani sangat erat kaitannya. Jika rohaninya sehat maka jasmaninya juga akan sehat. Seperti pada semboyan dalam Bahasa Latin Mens sana in corpore sano,yang artinya adalah dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.

Berbicara masalah kesehatan, tentu tidak terlepas dari masalah pola hidup sehat. Mengapa kakek-nenek kita lebih rentan terserang penyakit, sementara orang-orang zaman sekarang mudah terserang penyakit? Bahkan sekarang penyakitnya bermacam-macam dan tidak pandang usia. Ya, karenaterdapat perbedaan pola hidup di antaranya. Orang-orang zaman old seperti kakek-nenek kita makan makanan yang alami. Mereka makan seadanya dengan bumbu-bumbu yang alami pula tanpa ditambahkan micin atau penyedap rasa, sayur-sayuran, tumbuh-tumbuhan hijau, buah-buahan, dll. yang tidak mengandung pengawet. Mereka juga belum mengenal adanya makanan cepat saji (instan) yang cenderung kurang baik untuk kesehatan jika dikonsumsi terus-menerus. Selain itu, mereka juga terbiasa berjalan kaki. Bahkan dalam jarak berkilo-kilo mereka kuat berjalan kaki. Sedangkan orang zaman sekarang, mau ke warung terdekat saja naik sepeda motor karena mager untuk jalan kaki. Pola hidup seperti itu kurang baik. Sebaiknya budaya jalan kaki tetap harus dilestarikan. Ditambah zaman sekarang ini teknologi semakin canggih, semua serba online. Kita tinggal memesan apapun via online dengan smartphone kemudian pesanan kita sudah diantarkan di depan rumah. Memanghal itu sangat  memudahkan kita untuk mencukupi kebutuhan karena hanya dengan duduk manis semua kebutuhan bisa tercukupi. Akan tetapi, di sisi lain cenderung akan mendorong kita untuk bermalas-malasan, misalnya malas untuk berolahraga. Cenderung orang lebih memilih untuk diam di rumah berhadapan dengan laptop atau gadget daripada berolahraga. Padahal olahraga sangat penting untuk menjaga kesehatan. Hal seperti itu salah satu penyebab pola hidup tidak seimbang. Itulah sebagian alasan mengapa orang-orang dahulu itu lebih jarang terserang penyakit.

Kebiasaan buruk yang sering dilakukan orang-orang saat ini terutama pada remaja adalah begadang hingga lupa waktu. Sering kaliketika kita banyak kegiatan atau tugas memlilih untuk lembur begadang. Padahal tubuh kita itu juga butuh istirahat. Namun, istirahat berlebihan juga tidak baik bagi kesehatan. Jam tidur yang efektif adalah sekitar 4-5 jam. Jika istirahat lebih dari itumaka tubuh akan terasa letih.

Jadi, mari kita harusmembiasakan diri pola hidup sehatseimbang agar kesehatan kita terjaga dengan menjaga pola makan bergizi dan teratur, rajin berolahraga, dan istirahat yang cukup. Menjaga kesehatan itu wajib, sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Tuhan yang telah memberikan nikmat sehat kepada kita.

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Unversitas Negeri Semarang

Fadhilah Yasin ketika Ajal

Oleh:

Fafi Masiroh

“Hidup di dunia itu sementara,ibaratnya kita sedang mampir bertamu untuk sekedar meneguk minum.” Ungkapan ini sudah tidak asing lagi tentunya bagi kita. Kebenarannya memang seperti itu, bahwa hidup di dunia ini hanya sementara. Karena kehidupan yang abadi sejatinya hanyalah di akhirat. Apa yang kita lakukan selama di dunia ini,dapat menjadi tolak ukur seseorang ketika dia meninggal kelak. Artinya, jika selama di dunia seseorang melakukan kebaikan dengan penuh rasa ikhlas dan tanpa niat buruk lainnya seperti ria,maka tidak menutup kemungkinan orang itu akan meninggal dalam keadaan seperti yang biasa ia lakukan selama di dunia. Begitu juga jika seseorang selama di dunia ia selalu melakukan perbuatan yang tidak terpuji,maka bisa jadi ia akan meninggal dalam keadaan yang kurang mengenakkan, kecuali ia bertaubat. Dari sini kita bisa menarik kesimpulan,bahwa apa yang kita lakukan selamadi dunia berkaitan erat dengan kondisi kita kelak saat kembali di sisi Allah SWT. Meskipun perkara mati ialah rahasia terbesar yang hanya diketahui oleh Allah SWT. Namun, kita sebagai manusia yang berimanjuga harus memiliki bekal supaya Allah memudahkan jalan kita ketika kembali kepadaNya. Salah satu bekal yang mudah dan dipercaya memiliki pengaruh besar yaitu membaca QS.Yasin.

QS.Yasin merupakan salah satu surat di Al-Quran urutan ke-36 yang memiliki ayat sebanyak 83 ayat. Surat Yasin diawali dengan ayat yang berbunyi Yasin, di mana tidak ada yang mengetahui arti dari ayat pertama ini seperti pada ayat Alif Lam mim. Sehingga ayat ini termasuk ayat mutasyabihat (ayat yag memiliki makna samar). Oleh karena itu,surat ini dinamai sebagai surat Yasin. Di balik dari 83 ayat QS.Yasin, ternyata membiasakan membaca yasin setiap hari memilki banyak keutamaan. Terlebih ketika dibacakan untuk orang yang sedang sakaratul maut,maka insyaallah Allah akan memudahkan jalan orang tersebut untuk kembali kepada Allah. Sakaratul maut sendiri adalah kedahsyatan dan himpitan kekuatan kematian yang mengalahkan serta menguasai akal sehat manusia. Dikisahkan ketika roh Rasulullah sampai di pusat perut, Rasulullah berkata: “Wahai Jibril, alangkah pedihnya maut.” Mendengar ucapan Rasulullah itu, Jibril memalingkan wajahnya. Lalu Rasulullah bertanya: “Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka memandang wajahku?” Jibril menjawab: “Wahai kekasih Allah, siapakah yang sanggup melihat muka Rasulullah, sedangkan Rasulullah sedang merasakan sakitnya maut?” Akhirnya roh yang mulia itu meninggalkan jasad Rasulullah. Betapa pedihnya memang sakaratul maut. Sampai Rasulullah SAW pun merasakannya,serta dalam suatu riwayat beliau meminta Jibril untuk memberikan seluruh kepedihan maut kepadanya. Agar umatnya kelak tidak merasakan kepedihan yang beliau rasakan.

Dalam sebuah hadits pun telah disebutkan keutamaan Surat Yasin yaitu “Telah menceritakan kepada kami, Abu Mughiroh, telah menceritakan kepada kami Sofwan, telah menceritakan kepadaku para guru sesungguhnya mereka menghadiri Ghudaif bin Al Harits Ats Tsumali ketika sekarat maka berkatalah : Siapa seorang diantara kalian yang mau membaca Yasin? -lalu Sofwan (periwayat hadits) berkata-: maka Soleh bin Syurekh As-Sakuni membaca surat Yasin tersebut, dan ketika bacaannya sampai ke-ayat 40, ternyata Ghudaif meninggal dunia.Sofwan berkata: Bahwasannya para guru mereka berkata, apabila dibacakan Yasin di sisi orang mati maka diringankan (pencabutan nyawa) darinya berkat bacaan Yasin tersebut.Berkata Sofwan : Dan Isa bin Mu’tamir telah membaca Yasin di sisi Ibnu Ma’bad” (HR. Ahmad/16355)

Dalam kisah lain pada dekade akhir akhir ini, seorang kyai kharismatik dengan nilai nasionalismenya yang tidak diragukan lagi, yaitu KH.Maimoen Zubair (Pendiri PP. Al Anwar Sarang) sebelum wafat beliau meminta sesuatu kepada salah satu santrinya. Beliau meminta agar santrinya membacakan QS.Yasin untukya sebanyak 40 kali, saat itu juga santrinya membacakan sesuai perintah beliau sampai malam hari. Kemudian pagi harinya, Mbah Maimoen kembali kepada Sang Khaliq dalam keadaan seperti yang beliau inginkan. Masyaallah, tidak diragukan lagi bahwa Surat Yasin memiliki keistimewaan tersendiri. Sehingga, ketika seseorang sebelum ataupun setelah meninggal sering dibacakan Yasin. Dengan harapan supaya Allah memudahkan jalan orang tersebut untuk kembali kepada Allah. Serta mengampuni dosa dosanya setelah meninggal.

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang