Lampu Kota

Oleh: Indra Dwi Jayanti

Kau telah menghiasi malamku
Meredakan perasaanku yang pilu
Menggetarkan kembali hati yang membisu
Segala kerisauanku seakan pudar
Menghilang bersama cahayamu yang berbinar

Saat malam semakin sunyi
Semakin dalam jiwa ini meresapi
Bersama teman malamku yang sejati
Secangkir kopi di tangan kiri
Hitam pekat namun banyak arti

Bagiku
Kau dan kopi itu beda tapi serasa
Sama-sama memberikan kejutan
Hingga lukaku yang sesak
Seketika hambar ditelan syahdunya malam
Melayang mengikuti geraknya awan

Itulah sebabnya
Aku kerap bosan dengan pengapnya kamar
Dengan segala isinya yang membosankan
Aku ingin keluar
Bernafas bebas
Duduk tak beralas
Sambil menatap cahayamu yang melintas

Hari ini
Mungkin akan menjadi puncak
Kerinduanku memandang cahayamu
Meluapkan gejolak rasa ingin bertemu
Merasakan hangatnya peluk
Darimu malaikatku
Ibu

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Ilmu Keoahragaan Universitas Negeri Semarang

Ibu

Oleh Muhammad Nurul Huda

Ibu
Seorang wanita tua nan renta
Berjalan menyusuri jalan
Menuju keramaian

Tanpa lelah engkau berjualan
Keringat, lelah yang kau rasakan akan tergantikan
Ketika engkau melihat anak anakmu tertawa sana sini
Dengan secuil nasi yang kau beli

Berusaha bertahan hidup dengan kesabaranmu yang tiada henti
Segala masalah dan cobaan silih berganti
Tetapi semua dapat kau arungi

Doa doa yang engkau panjatkan saat ini
Solat malam serta zikir yang teriringi
Semua demi anak anakmu ini
Yang selalu engkau sayangi

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang

Berarti

Oleh: Selviana Listiyowati

 

Tuhanku

Hatiku sedang tak menentu

Menanti waktu

Menunggu

 

Perasaanku kacau

Pikiranku kalut

 

Fisikku  baik-baik saja,Tuhan

Tapi jiwa tak karuan

Tugasku tak kunjung tuntas

Perkaraku tak kunjung purna

 

Kata orang

Semakin banyak tugas semakin kita mendewasa

Semakin kompleks masalah kita

Menandakan bahwa kita tabah

 

Namun

Semakin banyak beban yang kutanggung

Berjebahnya urusan yang Tuhan berikan

Kenapa aku semakin lemah?

Kenapa aku semakin cemas?

 

Cemas akan masalah yang semakin meraja

Lemah akan perkara yang membengkak

 

 

 

Akan tetapi

Tuhanku begitu baik hati,tanpa kusadari

Setiap kali aku merasa lemah

Setiap kali aku merasa tak berguna

Tuhan menhadirkanku

Dua tangan yang selalu mendekapku

Menyadarkanku bahwa aku mampu

Dia ibuku

Perempuan terbaikku

Yang mengajarkanku

Bahwa kehadiranku saja

Membahagiakan untuknya

 

Kali ini aku terhenyak

Seketika tersadar

Setidak bermanfaatnya aku bagi oranglain

Aku tetap menjadi yang terbaik

Untuk manusia terbaik

Yang dihadirkan Tuhan di bumi untukku, si manusia kecil

Ialah ibuku

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang

Malaikat Tanpa Sayap

Persembahan untuk Sosok tangguh yang biasa kusebut

IBU

Oleh : Wihda Ikvina Anfaul Ummat

Jika awan adalah gambaran rinduku padamu

Maka melukiskannya adalah masih kurang

Bila samudra adalah luas yang mewakili kasihmu

Maka mengarunginya adalah kurang

Adakah langit yang tak terjamah

Aku gundah,  tingginya tak mewakili pengorbananmu

Susah susah kau buat peta hidupku

Membelajarkan bahwa indah tak akan mudah

Menguatkan pundak yang kadang layu menjunjung amanah

Merangkul jiwa yang menjinjing arah

Rapuhku adalah lemahmu

Maka kau adalah pondasi terkuatku

Sayang…

Apalah aku dibandingkan dirimu

Kutersayat silet tangisku pecah

Sedang kau, tersayat oleh samurai

Namun, tawamu masih merekah

Cemoohan berdatangan,  sedihku memuncak

Sedangkan setumpuk ejekan bagimu adalah jalan kehidupan

Aku…

Apalah aku…

Tanpamu,  ibu.

 

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas  Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang

Untukmu Ibu

Oleh : Tri Ratna Ambarwati

Hari ini ingin sekali ku sampaikan

Betapa aku bangga telah dilahirkan

Dari sosok sehebat dirimu

Sekuat kaki dan tanganmu

Selembut hati dan tuturmu

 

Maafkan aku ibu…..

Jika aku tak pernah tahu

Betapa pedihmu kala itu

Cucuran keringat dan darahmu dikala

Mengandungku, melahirkanku

Bahkan merawatku dengan sepenuh cintamu

Kau korbankan waktu tidurmu

Hanya untuk menenangkanku

Kau abaikan lelahmu

Kau abaikan sakitmu

 

Ibu….

Seringkali aku menyakitimu dengan kataku

Merepotkanmu dengan segala kebutuhanku

Membuatmu cemas dengan kelakuanku

Namuan kau tak pernah mengeluhkan hal semacam itu

 

Ibu…

Udara pagi ini begitu sendu

Ketikaku melihat banyak sekali  story di hpku

Tentang kebersamaan mereka dg ibu mereka

Tentang ucapan – ucapan yg mereka tuliskan

Tentang segala perhatian dan kebahagian

Yang mereka perlihatkan

Akupun ingin merasakan kebersamaan

Sama halnya seperti mereka

Aku yang jauh hanya mampu membayangkan

Gambaran senyummu yg tulus penuh perhatian

 

Tapi ingatlah ibu…

Harapan yang pernah kau ucapkan

Akan selalu ku usahakan

Doa- doamu yang selalu lantunkan

Mengiringi langkahku dengan keberkahan

Hingga nanti aku akan buktikan

Bahwa aku adalah putrimu yang pantas untuk  kau banggakan

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Ilmu Keoahragaan Universitas Negeri Semarang

PEREMPUAN JUGA BISA

Oleh:

Tri Ratna Ambarwati

 

Dalam sebuah penelitian sukses berkolerasi positif bagi seorang laki – laki namun berkorelasi negatif untuk perempuan. Mengapa demikian? ,menjadi perempuan tidaklah mudah terkadang memiliki impian menjadi sukses dianggap bertentangan dengan tradisi, ingin berprestasi dengan segala ambisi dianggap mementingkan diri pribadi. Banyak orang mengatakan sebagai seorang perempuan harusnya begini, tidak boleh begitu, seperti ini tidak baik dan anggapan –  anggapan lain yang justru membuat mental dari seorang perempuan itu akan jatuh. Perempuan dituntut untuk menempatkan diri sebagai anak,istri,ibu,tetangga,dll inilah yang menjadii alasan mengapa perempuan sering kali dibatasi pergerakannya. Sebagai seorang perempuan kewajibannya mengurus anak, membersihkan rumah, mengurus pekerjaan – pekerjaan rumah inilah kenyataan anggapan banyak orang. Dunia gempar dengan emansipasi, namun kenyataan dilapangan tidak menunjukkan demikian. Bukan hanya seorang perempuan yang sedang berjuang saja yang mendapat kritikan, bahkan seorang perempuan yang sudah sukses pun ditakar dengan penilaian yang bermacam – macam.

Dunia adalah lahan kompetisi  dan siapapun mempunyai hak untuk ikut berkontribusi. Memang benar laki – laki punya tanggungjawab untuk menghidupi, tetapi bukan berarti sukses harus selalu mereka yang mendominasi. Sebagai seorang perempuan mereka juga memiliki hak untuk menyuarakan pendapat ,menyalurkan bakat, dan memiliki cita – cita yang tinggi. Perempuan bukan hanya seorang istri ataupun anak tetapi juga seorang warga negara yang sama – sama memiliki potensi mengembangkan negeri ini. Fikiran – fikiran kritis seorang perempuan seringkali diremehkan, bahkan sebeluam kita berbicara. Tanpa melihat apa yang akan kita sampaikan namun lebih melihat siapa kita yang dianggap hanya seorang perempuan. Bahkan ada  dalam sebuah perusahaan seorang perempuan yang memiliki potensi setara dengan laki – laki digaji lebih rendah, dengan berbagai alasan.

Kesetaraan gender sangat perlu direalisasikan. Dalam sebuah organisasi apabila hanya didominasi oleh satu golongan saja maka akan melahirkan pemikiran yang kurang terbuka. Laki – laki dan perempuan layaknya sepasang sepatu, apabila tiggi haknya atau ukurannya berbeda jelas jalannya tidak akan baik atau kurang seimbang.

Sebagai seorang perempuan jangan pernah takut untuk melangkah, kita bisa menjalani berbagai peran tanpa harus meninggalkan salah satunya. Kita punya cita – cita yang menunggu dinobatkan, kita punya orang – orang yang perlu dibahagiakan, dan kita punya negara yang perlu dimajukan. Jangan biarkan potensi – potensi yang kita miliki hanya terbengkalai dalam ketidakbergunaan, jangan biarkan fikiran – fikiran kritis kita terhadap permasalahan tak bisa direallisasikan karena dibungkam rasa tak percaya diri akibat penilaian banyak orang.

Memang masih banyak yang perlu dibenahi, namun yang mengerti dirimu adalah dirimu sendiri. Bagaimana kekuranganmu,kelebihanmu dan potensi yang bisa kamu kembangkan, kecakapan yang bisa menghasilkan, sehingga membuat seorang perempuan tak hanya berdiam tapi juga produktif. Harga diri tidak ditentukan oleh orang lain tetapi berasal dari diri sendiri bagaimana kita mampu menghargai diri sendiri dan berkarya. Seiring dengan bertambahnya pengetahuan kita penilaian – penilaian orang lain akan berbeda. Perempuan memiliki perang yang begitu besar, karena Perempuan cerdas akan melahirkan generasi – generasi yang cerdas pula. Bukan hanya untuk saat ini namun juga untuk masa – masa setelahnya.

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Ilmu Keoahragaan Universitas Negeri Semarang

BAKAT ATAU LATIHAN

Oleh:

Sudarto

Kita sering melihat orang mempunyai kemampuan yang diluar dari apa yang bisa dilakukan oleh orang biasa. Semisal saja orang yang pandai dalam bernyanyi, ada juga orang pandai main sepak bola, dan ada juga orang yang sangat pandai dalam matematika. Sesuai dengan judul tulisan ini, apakah semua itu disebabkan oleh bakat atau latihan. Dan lalu manakah yang lebih baik.

Bakat dan latihan dapat kita ibaratkan dengan lomba lari dimana orang biasa yang tanpa bakat dan latihan memiliki start awal yang sama dengan orang yang latihan. Namun disini orang yang mempunyai bakat mendapatkan posisi strat yang lebih dulu dibandingkan kedua orang tersebut. namun selanjutnya orang yang memiliki bakat tanpa latihan akan tertinggal dengan orang yang melakukan latihan. Dan akhirnya kebanyakan dari kita akan menjawabnya bahwa latihanlah yang dapat mengalahkan bakat dan yang menjadi pemenangnya. Namun jika kita mengambil kasus dimana orang yang memiliki bakat akan dapat melakukan sesuatu hal tanpa perlu latihan lagi mereka akan mesuk ke dalam jurang kesombongan yang dapat membuatnya terjatuh. Lalu orang yang memiliki bakat jika dibandingkan dengan orang-orang hebat seperti Albert Enstein, Ronaldo ataupun Mozart maka jawabnya adalah bakat (minat) ditambah dengan latihan(usaha) yang paling baik.

Jika mengetahui kisah dibalik kesuksesan mereka maka kita akan tahu intinya. Dari kisah mereka kita tahu bahwa Albert Einstein membutuhkan waktu 10 tahun untuk dapat mengguncang dunia dengan hukum fisikanya. Ronaldo ternyata lebih banyak melakukan latihan dari pada rekan-rekannya. Dan Mozart selalu menonton pertunjukan untuk dapat menjadi sekarang yang kita kenal. Mereka semuanya melakukan apa yang mereka sukai dan bisa.

Selanjutnya apa yang harus kita lakukan jika kita sudah mengetahui kesimpulannya. Oleh karena marilah kita mencoba salah satu resep belajar dengan nama Deliberate Practice. Dalam Deliberate Practice kita diajarkan agar tidak hanya memiliki jam terbang tinggi untuk dapat meningkatkan kemampuan kita. Namun, kita diharuskan juga untuk selalu melakukan evaluasi terhadap setiap latihan yang dijalani. Hal ini dikarenak jika hanya memiliki jam kerja tinggi namun tidak dilakukan evaluasi maka seseorang akan tetap dapat naik kemampuannya namun akan berhenti pada suatu titik tertentu.

Jika kita mengibaratkan hidup seseorang seperti sebuah karakter dalam game kita bisa mengambil game bulu tangkis. Untuk dapat memenangkan pertandingan kita perlu melakukan upgrade kemampuan kita seperti kemampuan menyerang, ketahan ataupun stamina. Jika kita melakukan semuanya maka kesempatan untuk memenangkan pertandingan akan menjadi semakin tinggi. Hal ini sama dengan dalam kehidupan nyata kita harus selalu berusaha meningkatkan kapasitas kita agar menjadi manusia yang dapat bersaing dan memenangkan perlombaan dalam kehidupan di dunia ini. JadiJadi intinya yang lebih baik antara bakat dan latihan jawaban adalah latihan namun dengan tanda kutip latihan dalam bidang yang kita sukadan yang pasti sesuatu yang baik.

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang

MEMAKNAI KESETARAAN GENDER

Oleh:

Muhammad Miftahul Umam

Isu mengenai perempuan saat ini masih menjadi topik yang sangat menarik untuk diperbincangkan. Sejak beberapa dekade yang lalu, isu-isu mengenai perempuan mulai ramai diperbincangkan, seiring dengan adanya kesadaran tentang ketidakadilan yang selama ini menimpa kaum perempuan. Dengan adanya kesadaran tersebut, akhirnya mendorong berbagai kelompok masyarakat untuk menyuarakan serta menuntut adanya kesetaraan antara kaum laki-laki dan kaum perempuan. Fenomena seperti ini dalam masyarakat kita biasa dikenal dengan istilah “kesetaraan gender”.

Saat ini, banyak kelompok atau gerakan yang lantang menyuarakan adanya kesetaraan gender. Salah satunya yang paling lantang adalah gerakan feminisme.Jane Pilcher dan Imelda Whelehanmenyatakan bahwafeminisme adalah gerakan kaum perempuan yang memperjuangkan hak-hak asasi mereka. Gerakan ini muncul pertama kali antara tahun 1880 sampai dengan 1920. Kemunculan gerakan ini dipengaruhi oleh pemikiran Mary Wollstonecraft lewat bukunya yang berjudul “Vindication of the Rights of Women”. Buku ini dipublikasikan di Inggris pada tahun 1792.

Meskipun kita kerap mendengar istilah gender, namun masih banyak di antara kita yang belum memahami dengan benar istilah tersebut. Gender sering diidentikkan dengan jenis kelamin (sex), padahal gender berbeda dengan jenis kelamin. Sex adalah pembagian jenis kelamin yang melekat secara biologis, misalnya, jenis lelaki adalah manusia yang memiliki penis, memiliki jekala, memproduksi sperma dan sebagainya. Sedangkan perempuan adalah manusia yang memiliki alat reproduksi telur, vagina, alat menyusui dan sebagainya. Alat-alat tersebut merupakan pemberian tuhan, sehingga sifatnya kodrati.

Sementara konsep gender merupakan pembagian jenis kelamin yang melekat secara non biologis.Gender adalah pembagian lelaki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural, misalnya perempuan dianggap lemah lembut, emosional, keibuan dan sebagainya. Sedangkan laki-laki dianggap kuat, rasional, perkasa dan sebagainya. Sifat-sifat tersebut tidaklah kodrati, karena tidak abadi dan dapat dipertukarkan. Dengan demikian, penggunaan istilah gender sebagai judul yang diusung dalam gerakan penuntutan terhadap hak-hak kaum perempuan sebenarnya kurang tepat.

Hadirnya berbagai gerakan atau kelompok yang progresif dalam menyuarakan keadilan, khususnya terhadap kaum perempuan sebenarnya sangat bagus, karena hal tersebut merupakan bagian dari kemanusian. Namun yang menjadi masalah adalah ketika hal-hal yang dituntut oleh kaum perempuan kemudian melampaui batas. Konsep kesetaraan bukan berarti antara laki-laki dan perempuan harus mendapatkan hak yang sama dalam segala hal, namun konsep kesetaraan yang paling ideal adalah ketika laki-laki dan perempuan mendapatkan serta menjalankan hak dan kewajibannya masing-masing sesuai porsinya.

Seringkali banyak dari kita tidak sadar bahwa setiap kelompok masyarakat memiliki karakteristik budaya tersendiri yang cenderung berbeda-beda.Konsep kesetaraan gender seharusnya dikonstruksikan dengan budaya masing-masing kelompok sosial. Pandangan mengenai ketetaraan gender antara satu kelompok dengan kelompok lainnya tidak lah harus sama.Indonesia adalah sebuah bangsa yang masyarakatnya beragama, lebih khusus beragama Islam. Sehingga segala aspek kehidupan harus dikontruksikan dengan agama, berbeda dengan barat yang cenderung sekuler.  Namun sangat disayangkan, banyak diantara kita yang tidak memahami hal tersebut dan cenderung terpaku dengan konsep yang diusung oleh barat.

Banyak konsep feminisme ala barat yang bertentangan dengan nilai-nilai budaya dan agama, khusunya agama Islam. Seperti yang dijelaskan Warsito dakam penelitiannya (2013), antara lain: Seorang istri tidak memiliki beban untuk taat kepada suami karena kedudukan istri dalam keluarga adalah sejajar dengan suami, seorang suami tidak memiliki kewajiban untuk memberi nafkah kepada istri karena istri dalam keluarga merupakan mitra dan setara dengan suami, seorang istri memiliki hak untuk mengatur reproduksinya dan hak untuk melakukan aborsi yang dijamin oleh pemerintah tanpa harus izin suami dan lain sebagainya.

Tentu hal tersebut sangat bertentangan dengan ajaran Islam, dimana seorang istri memiliki kewajiban untuk taat kepada sang suami (dengan catatan tidak melanggar syariat) dan seorang suami memiliki kewajiban untuk memberikan nafkah kepadanya istrinya. Saat ini banyak kelompok-kelompok, khususnya dari kalangan Islam sendiri yang menuntut kesetaraan gender namun bertentangan dengan agama. Misalnya adalah masjid feminis di Jerman yang bernama masjid Ibnu Rusyid-Goethe Berlin. Sebagai bentuk adanya kesetaraan gender, mereka mencampurkan antara laki-laki dan perempuan saat shalat dan seorang perempuan juga berhak untuk mengumandangkan adzan, mengimami khotbah serta salat jum’at dan lain sebagainya.

Islam adalah agama yang sangat meemuliakan seorang perempuan. Laki-laki dan perempuan dalam pandangan Islam memiliki kedudukan yang sederajat sebagai seorang hamba. Yang membedakan adalah tingkat ketaqwaan masing-masing individu. Antara laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan, kesehatan, pekerjaan dan lain sebagainya. Namun hal tersebut agak sedikit berbeda ketika keduanya membangun sebuah keluarga. Ketika mereka membangun keluarga, tentu akan memunculkan hak dan kewajiban masing-masing, yang agak sedikit berbeda ketika belum menikah. Seorang istri memiliki kewajiban untuk taat dan patuh kepada sang suami, dan seorang suami mempunyai kewajiban untuk memberikan nafkah terhadap istrinya.

Ketika seorang perempuan menikah tidak lantas menghilangkan hak-hak mereka seperti melanjutkan pendidikan, bekerja, tampil diruang publik dan lain sebagainya. Ketika seorang perempuan telah menikah, maka ia perlu mendiskusikan terlebih dahulu dengan suaminya karena seorang istri memiliki kewajiban untuk patuh terhadap suaminya. Jadi pada dasarnya, Islam memberikan kedudukan yang tinggi kepada perempuan setara dengan kedudukan yang diberikan kepada laki-laki. Namun yang perlu dipahami bahwa kesetaraan ini bukan berarti menjadikan perempuan sama persis dengan laki-laki dalam segala hal. Tentunya ada batasan-batasan tertentu yang membedakan antara seorang wanita dengan seorang pria. Dengan memahami kesetaraan gender secara benar, maka akan dapat menghantarkan pada suatu tatanan kehidupan yang ideal.

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang

Terbiasalah dalam Keniscayaan

Oleh:

Gema Aditya Mahendra

Apa sebenarnya arti dari hidup? Apa yang ingin kita lakukan didalam hidup? Saya sekarang kuliah, setelah lulus bisa akan punya kesibukkan baru berupa pekerjaan. Mungkin di masa depan saya akan menikah. Kalau beruntung mungkin saya akan memiliki beberapa anak, mendapatkan uang pensiun, meratapi kehidupan yang mulai menua, dan kemudian saya mati. Tujuan hidup saya adalah mati, atau bahkan tujuan semua orang yang hidup.

Lantas untuk apa saya repot-repot untuk belajar, bekerja, atau bahkan hidup jika pada akhirnya saya akan terkubur didalam tanah, di gerogoti oleh beberapa hewan dekomposer, dalam kata lain mati?. Untuk apa saya bekerja? Tidak jelas. Untuk apa juga saya beribadah? Padahal sampai sekarang pun belum ada bukti empiris apakah surga dan neraka itu ada atau tidak. Untuk apa saya melakukan ritual? Untuk apa sayaa berbudaya? Untuk apa ksaya melakukan kebaikan? Untuk apa saya eksis di dalam hidup ini?
Semua hal yang ada saat ini tidak memiliki tujuan dan artinya. Hidup adalah suatu kenihilan. Tidak ada pandangan moral, nilai dan norma, atau agama apapun yang benar di dunia ini. Nothing really matters. Perasaan seperti ini menurut saya merupakan sebuah fase yang pernah atau akan dialami oleh seseorang dalam hidup, setidaknya sekali. Umur semakin bertambah, pemikiran semakin bertumbuh. Alhasil banyak orang yang sadar akan ketidakbermaknaan dalam hidup atau mungkin ada.

Hidup itu memang kadang membingungkan, random, dan pekat untuk dipahami, mungkin saja kita hanya kebetulan. Kebetulan saja karena dari triliunan bintang yang ada di alam semesta ini kita eksis. Kebetulan pula kita memiliki otak yang hebat, bisa berpikir lebih jauh daripada spesies yang lain. Sesekali saya bertanya kepada diri sendiri, mengenai apakah ada sesuatu yang membedakan kita sebagai manusia daripada spesies lain. Pertanyaan terjawab dengan kematian adalah jawabannya. Bahwa semua makhluk pada akhirnya akan mati, dan ketika mati, semua hal yang telah kita lakukan didalam hidup menjadi tidak penting. Meaningless.

Peristiwa semacam kena marah oleh atasan, masalah dengan pergaulan, mendapat nilai jelek saat kuliah, dibenci oleh orang yang kita sukai, kehilangan uang, kecurian motor. Atau mungkin sebaliknya, mendapatkan penghargaan, dipuja orang, menghasilkan banyak uang, dan lain sebagainya. Semua pencapaian mu tersebut tidak akan lagi bermakna terhadap kematian. Kematian adalah keniscayaan. Semua perasaan yang kamu alami seperti malu, sedih, senang, akan menjadi kosong dihadapan kematian. Dan ketika kamu merasa semua hal yang kamu lakukan adalah kosong dan tidak penting, maka kamu akan memutuskan untuk bunuh diri sekalian atau sebaliknya, melakukan sesuatu yang kamu sukai di dunia ini. Kita bisa memilih tujuan apapun dalam hidup yang kita mau. Kita bisa memilih untuk hidup seperti apapun yang kita inginkan.

Albert Camus, menulis fenomena semacam ini didalam bukunya yang berjudul. The Myth Sysyphus. Ia menceritakan seorang raja yang dihukum oleh alam untuk mendorong sebuah batu besar ke puncak gunung didalam hidupnya, selamanya. Namun batu besar itu tidak akan pernah sampai ke puncak, batu yang akan hampir mendekati ke puncak akan jatuh tergelinding menuju dasar tanah. Ketika batu besar tersebut berada didasar tanah, Sysyphus akan turun dari gunung dan mendorong batu itu kembali ke puncak gunung. Sysyphus akan terus mendorong batu tersebut terus menerus selama hidupnya meskipun tujuannya tidak akan pernah tercapai.

Realita yang kita hadapi didunia ini kurang lebih sama seperti nasib Sysyphus. Misal ketika hari senin mungkin kita akan sedih dimarahi oleh orangtua karena mendapat nilai ujian yang jelek. Kemudian hari selasa mungkin saja kita akan gembira karena diberi uang jajan berlebih, dan karena hal itu kita bisa pergi makan bersama teman untuk di traktir. Hari-hari berikutnya mungkin kita akan sedih lagi atau bahkan senang kembali. Begitupun Sysyphus, pada awalnya ketika ia mendorong batu dia merasa sedih akibat jauhnya dasar gunung ke puncak gunung. Ketika mendekati puncak gunung, Sysyphus akan merasa gembira karena merasa ia akan selesai mendorong batu. Namun ketika batu tersebut jatuh k permukaan, Sysyphus akan menjadi sangat sedih, dan akan menjadi senang kembali ketika batu tersebut mendekati puncak kembali, dan begitu seterusnya. Hidup kita ibarat sebuah siklus.

Meskipun kita hidup merasa bahagia atau dibawah tekanan. Kita harus tetap mendorong batunya. Kita harus menerima kenyataan bahwa hidup tidak memiliki makna yang spesial, meaningless. Kalau kita tidak mendorong batu nya, kita tidak akan pernah merasakan yang namanya sebuah kebahagiaan, kita tidak pernah merasakan sebuah kegagalan, kesedihan, dan lain sebagainya. Hanya dengan menerima untuk terus mendorong batu, kita bisa memiliki tujuan didalam hidup kita, dengan begitu hidup yang tampak sia-sia ini terlihat lebih berarti. Meaningful.

Ketika kita tidak lagi percaya sama apapun, tidak lagi terikat oleh dogma apapun, dan menanggap bahwa semua yang eksis di dunia ini adalah ketidakbermaknaan. Semua yang kita lakukan ini seharusnya MUNGKIN untuk dilakukan. Dan tidak ada alasan untuk kita tidak melakukan hal yang sebetulnya berarti untuk kita. Kita bisa menemukan dan membuat arti didalam hidup kita.Pada dasarnya memang hidup ini adalah kanvas kosong yang tidak memiliki makna, maka maknailah kehidupanmu sendiri dengan warna yang kamu inginkan. Setidaknya itu akan membuat mu merdeka bahwa kamu bisa menentukan bagaimana mati mu kelak.

Kehidupan dan kematian adalah keniscayaan. Tidak ada yang spesial. Maka tidak perlu ada yang dikhawatirkan ataupun di takjubkan dalam menjalani hidup. Tidak perlu ada yang dikecewakan ataupun dikagumi. Tidak perlu di syukuri ataupun di sesali. Hukum alam telah mengatur sebagaimana kita hidup ataupun mati. Manusia hanyalah suatu komponen kecil yang tidak signifikan keberadaannya didunia ini. Tidak ada yang spesial. Hanya ada kehidupan sebagai awalan dan kematian sebagai akhiran, keduanya merupakan sebuah keniscayaan. Maka terbiasalah dalam keniscayaan.

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang

Menghadapi Gagal

Oleh:

Tri  Ratna Ambarwati

Dalam menjalani sebuah  kehidupan tentu  saja  tidak  semua  akan  berjalan  sesuai  dengan  apa yang  kita  inginkan. Adakalanya kita  akan  bertemu dengan  sebuah  kegagalan. Kegagalan  itu  sering  kali  membuat  kita jatuh dan  kecewa. Rasa  kecewa  yang berkepanjangan  akan  mempengaruhi  banyak  aspek entah  itu  waktu yang  terbuang  percuma, fikiran  kacau, sampai  dengan  kesehatan yang  terganggu.  Tentu  saja  kita  harus  bisa  mengatasi  hal  tersebut agar  rasa  kecewa  tidak  berangsur – angsur merugikan  kehidupan  kita.

Yang harus kita lakukan untuk mengatasi  dan  mengurangi  kemungkinan  kecewa dalam  sebuah  usaha  adalah :

  1. Pertimbangkan Kemungkinan  Terburuk

Sebelum  memperjuangkan  sesuatu  alangkah  baiknya  jika  kita  mempertimbangkan  kemungkinan  – kemungkinan  yang  bisa  saja  terjadi,dengan demikian  kita  mampu  memaksimalkan  usaha  kita  untuk  meraih  apa  yang  ingin kita  raih. Selain  itu, mempertimbangkan kemungkinan  terburuk  juga  akan  memberikan  gambaran  pada  kita  tentang apa yang harus  kita persiapkan  apabila  terjadi Bantu treason sesuatu  yang  tidak  diinginkan sebagai  alternatif  menghadapi  kegagalan.

  1.   Yakin  Akan Ketetapan Allah

Selalu  yakin akan  ketetapan Allah akan  membuat kita  tenang bahkan  jika  kita dihadapkan  dengan  kemungkinan terburuk  sekalipun. Selalu  yakin  bahwasanya Allah  akan  memberikan  sesuatu  sesuai  dengan  usaha  yang kita  lakukan. Sekalipun  kita  gagal  dalam  sebuah  usaha, jika kita  yakin  akan  ketetapan  Allah SWT kita akan  berfikir bahwasanya  Allah SWT  punya  rencana lain   yang  lebih  indah  yang sudah  disiapkan untuk kita,sehingga ketika  kita  kecewapun akan  lebih  singkat  karena ikhlas  akan ketetapan Allah.

  1. Bersyukur

Apabila Setelah  usaha  panjang yang kita  lalui  dan  masih  gagal  sebaiknya  kita  tetap  bersyukur kepada  Allah  Swt. Dengan  tetap  bersyukur hati  menjadi  lebih  tenang. Ketenangan  yang kita  miliki membuat  fikiran  kita  lebih  jernih  sehingga mampu  mengambil  pelajaran  dari  kegagalan tersebut untuk  ladang  intropeksi Diri untuk  membuat strategi  baru  agar  tidak  lagi  gagal  dalam  usaha – usaha  selanjutnya

  1. Berikhtiar dengan Istiqomah

Setelah  menentukan  strategi  berusahalah  lagi  dengan  sungguh – sungguh agar  kegagalan betikutnya  tidak  terulang  lagi. Tentu  saja  usaha  yang dilakukan  harus  dilakukan  dengan  istiqomah sehingga  menghasilkan  hasil  yang  maksimal.

Kegagalan  sangat  mungkin  terjadi  pada  siapapun,dimanapun dan  kapanpun.  Untuk  itu  kita  perlu  mempersiapkan  segala  sesuatu  yang  mungkin  saja  terjadi dengan  selalu yakin  bahwa  ketetapan  Allah tidak  akan pernah  salah, selalu  bersyukur  dan  tetap  berusaha.

Penulis adalah Santri Pesantren Riset Al-Muhtada dan Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang